BERTOBAT DARI PERBUATAN HARAM

Perjudian slot saat ini menjadi wabah yang merajalela, melanda tidak hanya kota-kota besar, tapi juga desa-desa terpencil. Parahnya, banyak penjudi yang merasakan pahitnya kekalahan dan hancurnya hidup mereka karena terperangkap dalam perjudian ini. Setelah kehilangan segalanya, utang menumpuk dan kehidupan keluarga hancur berantakan.

Kendati demikian, ada sebagian orang yang mendapatkan petunjuk untuk berhenti dari judi ini, bahkan ketika mereka menang besar. Hanya saja, pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana cara mereka bertobat? Apa yang harus mereka lakukan dengan harta haram yang mereka peroleh dari kemenangan judi slot ini?

Dalam Islam, tobat adalah proses yang melibatkan beberapa syarat utama. Pertama, individu harus merasakan penyesalan atas perbuatannya. Kedua, mereka harus segera menghentikan perbuatan tersebut. Ketiga, mereka harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selain syarat-syarat tobat ini, hak-hak sesama manusia juga harus diperhatikan. Ini termasuk mengembalikan barang yang diperoleh secara tidak sah kepada pemiliknya. Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba Alawy menjelaskan bahwa untuk mencapai tobat yang benar, individu harus merestitusi harta haram kepada pemiliknya. Beliau berkata:

)مسألة : ك) : للتوبة ثلاثة شروط : الندم على الفعل ، والإقلاع في الحال ، والعزم على عدم العود ، ويزيد حق العباد برد المظالم إليهم ،[1]

Selanjutnya pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin ini juga  memberikan cara yang harus diambil oleh seseorang yang memiliki harta haram dan ingin bertobat. Beliau berkata:

(مسألة : ب ش) : وقعت في يده أموال حرام ومظالم وأراد التوبة منها ، فطريقة أن يرد جميع ذلك على أربابه على الفور ، فإن لم يعرف مالكه ولم ييأس من معرفته وجب عليه أن يتعرفه ويجتهد في ذلك ، ويعرفه ندباً ، ويقصد رده عليه مهما وجده أو وارثه ، ولم يأثم بإمساكه إذا لم يجد قاضياً أميناً كما هو الغالب في هذه الأزمنة اهـ. إذ القاضي غير الأمين من جملة ولاة الجور ، وإن أيس من معرفة مالكه بأن يبعد عادة وجوده صار من جملة أموال بيت المال ، كوديعة ومغصوب أيس من معرفة أربابهما ، وتركة من لا يعرف له وارث ، وحينئذ يصرف الكل لمصالح المسلمين الأهم فالأهم

“Seseorang yang memiliki harta haram, dan ingin bertobat dari perbuatan haramnya, maka untuk mengatasi ini adalah dengan bersegera mengembalikan semua harta haram kepada pemiliknya. Jika dia tidak tahu siapa pemiliknya dan belum kehilangan harapan untuk mengetahuinya, maka dia harus berusaha lagi untuk mengetahuinya dengan sungguh-sungguh. Dia harus berupaya untuk menemukan pemiliknya dengan segala upaya yang mungkin. Dia tidak berdosa jika dia tidak bisa menemukan hakim yang amanah untuk mengalokasikan harta tersebut, seperti yang sering terjadi di zaman sekarang. Sebab, hakim yang tidak amanah adalah salah satu dari para penguasa yang zalim. Jika dia kehilangan harapan untuk mengetahui pemiliknya atau pemiliknya tidak mungkin ditemukan, maka dia harus mengalokasikan harta tersebut untuk kepentingan umat Muslim, dimulai dari yang terpenting dan seterusnya.”[2]

Dalam konteks ini, sangat penting untuk diingat bahwa harta haram tidak boleh dirusak, dimusnahkan, atau dibuang ke laut. Menurut ajaran agama, satu-satunya cara yang diperbolehkan adalah mengalokasikan harta tersebut untuk kemaslahatan. Dalam hal ini, taat kepada prinsip-prinsip agama adalah kunci untuk membersihkan diri dari dosa dan meraih tobat yang sejati. Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada mereka yang bertobat agar dapat melepaskan diri dari belenggu dosa dan menjalani hidup yang lebih baik. Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh : Zainul Umam


[1] Syekh Abdurrahman bin Muhammad, Bughyatul Mustarsyidin I/606

[2] Idem I/329

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *