Jembatan Bukan Tempat Kehilangan Harapan
Belakangan ini, jembatan kembali menjadi perbincangan bukan karena keindahan pemandangan alam atau derasnya arus sungai yang mengalir di bawahnya, melainkan karena perlahan menjadi tempat sebagian orang menumpahkan keputusasaan dan kehilangan harapan.
Ada orang-orang yang datang kesana dengan langkah pelan, pikiran yang dipenuhi kegelisahan serta hati yang terlalu lama memendam luka. Di hadapan orang lain, mereka mungkin baik-baik saja, masih mampu bicara dan berbincang seperti biasa. Namun tidak ada yang benar-benar mengetahui seberapa berat seorang berperang dengan dirinya sendiri.
Fenomena “lelaki tidak bercerita” misalnya, menjadi gambaran bahwa tidak sedikit orang terlihat tegar tapi diam-diam rapuh dalam batinnya. Dalam kondisi terpuruk, seseorang dapat terdorong melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri karena menganggap seluruh persoalan akan selesai jika kehidupan pun selesai.
Baca juga: Peran Zikir dalam Mendekatkan Hamba kepada Allah
Dalam pandangan para ulama tasawuf, bunuh diri bukan sekadar kematian, melainkan cerminan hati yang hancur dan hilangnya cahaya harapan. Ketika seseorang semakin jauh dari ketenangan, kehilangan tempat mengadu serta merasa tidak lagi dicintai oleh Allah ﷻ, kehidupan pun mulai terasa gelap.
Allah ﷻ berfirman:
ِلاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللَّه
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”. (QS. Az Zumar:53)
Ayat tersebut seakan menjadi pelukan bagi mereka yang sedang lelah dan kehilangan harapan. Allah tidak langsung menegur manusia karena dosanya dengan mengatakan “jangan berdosa” melainkan terlebih dahulu mengingatkan tentang luasnya rahmat-Nya. Layaknya Allah memanggil hamba-Nya yang sedang tenggelam dalam keputusasaan agar Kembali kepada-Nya. Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin1:
اْلقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ مِنَ اْلكَبَائِرِ
“Putus asa terhadap rahmat Allah termasuk bagian dari pada dosa besar.”
Putus asa bukan hanya bentuk kelemahan manusia, melainkan hilangnya keyakinan terhadap kasih sayang Allah. Bukan karena Allah hendak menghukum hamba-Nya yang lemah, tetapi karena keputusasaan membuat menusia tidak lagi percaya bahwa pertolongan Allah selalu ada. Oleh sebab itu, rahmat Allah sejatinya adalah sumber harapan itu sendiri. Larangan berputus asa terhadap rahmat Allah menjadi tanda bahwa pintu pertolongan tidak pernah tertutup. Sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Ghazali2:
اعْلَمْ اَنَّ بَابَ الرَّجَاءِ مَفْتُوْحٌ لَا يُغْلَقُ
“Ketahuilah bahwa pintu harapan selalu dibuka dan tidak akan terkunci.”
Kalimat tersebut sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Sebab, orang yang ingin mengakhiri hidupnya sering kali bukan semata-mata banyaknya masalah, melainkan karena merasa tidak lagi memiliki harapan dan jalan keluar. Padahal selama manusia masih diberi napas kehidupan, rahmat Allah terus mengalir tanpa henti.
Hakikat harapan adalah ketenangan hati terhadap rahmat Allah. Tidak sedikit orang dituntut untuk selalu kuat dan tampak bahagia di hadapan orang lain. Akibatnya, banyak hati yang lelah tidak menemukan tempat untuk mengadu, bisa jadi mereka telah berjuang terlalu lama melawan luka batin dan pikirannya sendiri, tetapi belum menemukan ketenangan sehingga ia memilih mendatangi jembatan untuk mengakhiri hidupnya.
Sebagian orang memandang bunuh diri sebagai jalan keluar dari seluruh persoalan hidup, melalui prespektif “Solusi dari pada semua masalah adalah sirna dari dunia”, padahal kehidupan tidak berhenti di dunia semata, melainkan akan berlanjut setelah kematian. Dalam kondisi demikian, seseorang kerap lupa bahwa doa yang belum terkabul bukan berarti ditolak oleh Allah sehingga membuatnya mendalami kata putus asa. Padahal Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitabnya berkata3:
لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ اْلعَطَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ
“Jangan sampai karena tertundanya pertolongan, akan membuatmu putus asa”.
Tugas manusia adalah meminta dan berusaha, selebihnya Allah yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidak semua orang meminta rezeki akan diberi harta melimpah, adakalanya Allah justru menghadiahkan kesehatan, ketenangan hati, atau kekuatan untuk bertahan dan itu bisa jadi jauh lebih berharga.
Baca juga: Mengubah Haluan Hawa Nafsu dari Maksiat Menjadi Taat
Ala kulli hal, pertolongan Allah pasti datang. Namun, pertolongan itu tidak selalu berupa hilangnya masalah, melainkan terkadang hadir dalam bentuk hati yang dikuatkan agar mampu melewati ujian kehidupan.
Karena itu, jangan mengakhiri hidup hanya karena gelapnya malam. Tidak semua malam itu identik dengan kehancuran. Masih ada bintang dan cahaya bulan yang selalu mengindahkan. Sering kali, setelah manusia merasakan titik terendah dalam hidupnya, di situlah ia mulai lebih mengenal tuhan dan menemukan makna harapan yang sebenarnya.
M. Hasani/Istinbat

