Umur itu bertambah atau berkurang (?)

Seringkali, atau bahkan lumrah di sekitar kita bahwa perayaan ulang tahun merupakan acara sakral yang tidak boleh luput dari jadwal. Perayaan tersebut harus dirayakan dengan kegembiraan, dengan kue tart lezat lengkap dihiasi lilin angka umur. Dekorasi rumah tidak boleh sampai ketinggalan untuk perayaan ini. Kita pun pernah melakukannya semasa kecil baik perayaan tersebut dari teman, kerabat atau diri kita sendiri. Kita merasa gembira menyambut ulang tahun dengan sukacita, bersenang-senang dengan teman sebaya sambil menyanyikan lagu ulang tahun dengan riangnya. Akan tetapi, pernahkah kita berfikir “apakah umur kita bertambah?”. Ya, umur kita memang bertambah. Tidak mungkin seorang remaja berujar bahwa umurnya masih satu tahun, itu tidak logis. Baik, sekarang coba renungi! Bila umur kita kian tahun kian bertambah, secara tidak langsung ajal kita pasti lebih mendekat kepada kita. Tiada seorang pun yang tahu kapan ajal menjemput kita selain Allah. Kematian tidak mengenal siapa diri kita. Baik berupa bayi, anak-anak, remaja bahkan ketika tua renta sekalipun pasti ada yang mengalami kematian. Jadi, umur kita bertambah atau berkurang?

BACA JUGA: Apapun Masalahnya, Komunikasi Solusinya

               Biar tidak bingung, ada satu kisah inspiratif yang tertera di dalam kitab Ihya Ulumiddin karya monumental Hujjatul-Islam Al-Ghazali;

Suatu hari, Malaikat Jibril mendatangi Nabi Nuh . Nabi Nuh merupakan salah satu nabi yang memiliki gelar “Ulul-azmi(pemilik cita-cita yang tinggi) dikarenakan Nabi Nuh memiliki kesabaran dan ketabahahan yang luar biasa dalam membawa risalah. Bagaimana tidak, hingga umur 900 tahun Nabi Nuh memiliki pengikut yang masih terbilang sedikit. Apalagi ditambah harus merelakan anak serta istrinya yang dilanda banjir besar karena mereka membangkang perintah Allah. Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Nuh tentang dunia menurut asumsinya,

Wahai Nabi Nuh, bagaimana gambaran dunia menurutmu?”

Lantas Nabi Nuh menjawab: “Dunia itu bagaikan kau memasuki sebuah ruangan berpintu dua, ketika kau lahir, kau memasuki satu pintu. Disaat kau menemui ajalmu, kau keluar melewati pintu yang lain.”

               Kita bisa menarik sebuah kesimpulan dari secuil dialog diatas bahwa secara implisit dunia itu pendek. Perjalanan kita di dunia saat ini sebentar. Analoginya hanya sebuah ruang berpintu dua, tidak lebih. Saat ini kita sudah berada di dalam ruang, berjalan menyusuri ruangan tersebut dan pasti kita akan keluar. Masalahnya kita tidak tahu kapan kita keluar, entah itu besok, minggu depan, tahun depan atau bahkan nanti kita mungkin keluar dari ruangan itu. Akan tetapi, di dalam ruangan tersebut terdapat sesuatu yang dapat kita manfaatkan ketika sudah keluar dari ruangan. Kita hanya diberi dua opsi; antara menggunakanya atau mengabaikannya. Jika kita pandai menggunakannya, insya Allah ia akan membantu kita di perjalanan panjang selanjutnya setelah kehidupan di dunia, begitu juga sebaliknya. Dan jika Anda ingin tahu apa sesuatu itu, jawabannya ialah”amal”.

               Kehidupan di dunia terkadang menguntungkan, terkadang juga merugikan. Tergantung siapa yang bisa memanfaatkan waktunya di dunia sebaik mungkin. Manfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak amal kita seperti membaca al-Quran, berbuat baik dan amal baik lainnya agar amal tesebut menjadi seorang “teman” yang dapat membantu kita di alam baka nanti. Mari kita renungi bersama adagium berbahasa Arab tentang waktu berikut;

ٱلْوَقْتُ كَٱلسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

“Waktu ibarat pedang, bila kau tidak pandai memotong, kau akan terpotong”

Waktu di dunia bagaikan sebilah pedang. Gunakan pedang itu seefisien mungkin agar ia menjadi kawan, bukan lawan.

               Secara singkat, umur itu bertambah sekaligus berkurang secara bersamaan. Umur kita bertambah disebabkan kita bertambah besar, sedangkan umur kita kian berkurang karena ajal kita kian mendekat untuk menjemput kita. Perayaan ulang tahun bukan sekadar acara pesta foya-foya, bukan sekadar tempat untuk bergembira. Ulang tahun seharusnya diadakan dalam bentuk “selametan”, dibuat untuk jamuan yang diselenggarakan setelah tahlilan bersama dengan berdoa agar umur yang bersangkutan kian hari dialiri dengan keberkahan.

               Pikirkan apa yang kita hadapi di masa depan tanpa mengingat masa lalu kita. Sebab, masa lalu hanyalah sebuah histori yang tidak bisa terulang kembali. Sedangkan masa depan berisi beragam misteri yang bisa mengubah pangkat kita menjadi rendah atau tinggi. Master Oogway pernah melontarkan wiseword kepada Sang Ksatria Naga yang berbunyi;

“Yesterday is history, tomorrow is mystery but today is a gift”

“Kemarin hanyalah cerita, hari esok ialah rahasia, tetapi hari ini adalah hadiah”.

Rian Fikri/(Redaksi Ijtihad 1446-1447 H)

BACA JUGA: BELAJAR PADA PERISTIWA KEMATIAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *