Nilai Islam di Barat

Dalam kitab Syariatullah al-Khalidah karya Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki disebutkan:

فَلَوْ أَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ الْيَوْمَ عَمِلُوْا بِأَحْكَامِ الْفِقْهِ وَالدِّيْنِ كَمَا كَانَ آبَاؤُهُمْ لَكَانُوْا أَرْقَى الْأُمَمِ وَأَسْعَدَ النَّاسِ

“Jikalau Muslim (sekarang) mengamalkan ilmu-ilmu agama seperti fikih, niscaya mereka menjadi umat termaju dan paling beruntungnya manusia.”

Lagi-lagi umat Islam terutama di zaman ini, tertipu dengan kehidupan glamor, hedonis, foya-foya orang Barat. Ironisnya mereka lupa atau lebih tepat (mungkin) tidak sadar bahwa di balik itu mereka diam-diam mempelajari mekanisme sistem lalu mengubahnya menjadi institusi modern yang bertahan ratusan tahun. Misal ilmu syariat dalam Islam, dalam konteks ini (ilmu fikih). Dalam satu kesempatan di KBM, guru kami pernah bercerita melalui ibarat di atas bahwa Habib Umar Bin Hafizh pernah berkunjung ke Perpustakaan University of Oxford, Inggris, yang katanya terkenal dengan universitas tertua kedua di muka bumi yang beroperasi secara terus-menerus. Hasil analisa menyatakan bahwa berjalannya sistem lembaga itu menggunakan mesin wakaf sebagaimana dalam Islam. Menarik sekali.

Baca juga: +62 Korban Pencitraan

Banyak negara maju di Barat selalu tampil di garda depan soal kemajuan, ketertiban, dan kedisiplinan. Apalagi soal kebersihan tidak perlu ditanyakan. Justru bila pertanyaan ‘kebersihan’ diajukan kepada kita, seharusnya malu bukan malah defensif, nyari pembelaan, mengalihkan pembahasan, apalagi acuh tak acuh seperti kelakuan warga +62. Di Eropa, misalnya Swiss mungkin menjadi salah satu negara di belahan bumi bagian Barat yang patut diacungi jempol dalam urusan kebersihan, rapi, pemandangan yang asri, jauh dari polusi pabrik maupun rokok. Sementara di sebagian negeri Muslim, slogan “kebersihan sebagian dari iman” dipasang besar-besar di tembok. Perintah sebatas caption, minim aksi.

Konon, diceritakan bahwa ada seorang tokoh cendekiawan kelahiran Mesir 1849, Muhammad Abduh, selama tinggal di Prancis dia speechless melihat negara ini begitu rapi, disiplin, dan bersih, meninjau penduduknya mayoritas non-Muslim. Berbeda jauh dengan pemandangan di tanah kelahirannya Mesir. Di Mesir, yang mayoritas penduduknya adalah orang Islam, ternyata jauh tertinggal dibandingkan dengan Prancis. Oleh sebab itu, ia pernah mengatakan suatu perkataan yang cukup terkenal hingga hari ini dikenang. Ia berkata:

ذَهَبْتُ اِلَى بَلَدِ الْغَرْبِيِّ رَأَيْتُ الْإِسْلَامَ وَلَمْ أَرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَذَهَبْتُ اِلَى بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ وَلمَ ْأَرَ الْإِسْلَامَ

“Aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang Muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang Muslim namun tidak melihat Islam.

Maksud perkataan ini bukan memuji akidah Barat atau merendahkan Islam. Justru sebaliknya, yang dipuji adalah nilai universal yang sebenarnya diajarkan Islam: jujur, tepat waktu, menjaga amanah, disiplin, dan menjaga kebersihan. Di Barat, nilai-nilai, esensi, dan akhlak yang diajarkan Islam seperti kebersihan, kejujuran, tepat waktu, hukum yang adil, dan ketertiban diterapkan dengan sangat baik oleh masyarakatnya, meskipun mereka bukan pemeluk agama Islam. Di negara Muslim, secara identitas, semua orang adalah Muslim, tempat ibadah berdiri di mana-mana, dan ayat-ayat tentang kebersihan sering dikhotbahkan. Namun, esensi ajaran tersebut tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga esensi “Islam” itu sendiri tidak terlihat pada perilaku masyarakatnya.

Baca juga: 2025 Mengenal Cinta

Tidak bisa dimungkiri, sejarah akan terus berulang-ulang dari masa ke masa, hanya pelakunya saja yang berbeda. Dan sejarah sebenarnya sudah memberi pelajaran sejak zaman Rasulullah ﷺ. Di waktu Nabi masih hidup, dalam Perang Uhud, umat Islam yang mengikuti perang di bawah komando Rasulullah harus menerima kekalahan telak dari pihak musuh, disebabkan lemahnya disiplin membuat keadaan berubah total: setelah sekelompok pemanah turun dari gunung terkecoh umpan: harta musuh. Dikarenakan satu barisan itu, pasukan umat Islam kocar-kacir, amburadul, tak karuan. Sekilas kita bertanya, “Bukankah Allah pasti menolong Islam dalam segala aspek; jihad, moral, budaya bahkan kemajuan?” lalu kenapa sulit untuk terealisasikan di dunia nyata? Sebab, syaratnya tidak terpenuhi, masuk akal. Seandainya umat Islam beriman, takwa dan bersabar menunggu, cepat atau lambat, pertolongan Allah akan turun. Namun, perlu digaris bawahi bahwa kemunduran umat tidak selalu dimulai dari kekalahan di medan perang, tetapi sering berawal dari runtuhnya disiplin, ilmu, dan kesadaran moral dalam kehidupan sehari-hari.

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Ayat ini dipahami para ulama dengan berbagai penjelasan. Sebagiannya menerangkan bahwa dominasi hakiki tidak akan dimiliki orang kafir atas orang beriman selama kaum beriman menjaga syarat-syarat keimanannya. Pun dalam fikih ada ulama yang berpendapat, “Rumah non-Muslim tidak boleh lebih tinggi daripada rumah milik Muslim”. Namun, dalam banyak hadis disebutkan bahwa Islam akan kembali berjaya menjelang akhir zaman. Wassalam

Mikyal Milad/Istinbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *