Semangat Berkhidmah Meraih Berkah
Salah satu tradisi pesantren yang kini disoroti sebelah mata oleh pihak-pihak yang anti-Islam atau oleh mereka yang kurang memahami ajaran Islam ialah khidmah. Seolah-olah, khidmah yang dilakukan oleh seorang santri kepada kiainya, atau oleh seorang murid kepada gurunya, merupakan suatu perbuatan yang tidak pernah diajarkan dalam Islam.
Bahkan tidak jarang sebagian pihak menyebut khidmah sebagai bentuk perbudakan halus yang didoktrinkan dalam pendidikan pesantren. Padahal, kalau kita telurusi lebih jauh, tradisi khidmah ini sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ. Demikian ini bisa kita lihat lewat kisah sahabat Anas bin Malik yang siang dan malamnya beliau khususkan untuk berkhidmah sepenuh hati kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam kitab Riyâdhush-Shâlihîn, al-Imam an-Nawawi mengutip pernyataan Anas bin Malik bagaimana beliau benar-benar berkhidmah dengan tulus kepada Nabi. Ia berkata:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ اَفْعَلْهُ اَلاَ تَفْعَلُهُ
“Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau sama sekali tidak pernah berkata kepadaku, ‘Ah!’ sekalipun. Dan beliau tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang aku kerjakan, ‘Mengapa engkau melakukannya?’ Juga terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan, beliau tidak pernah berkata, ‘Mengapa tidak engkau kerjakan?’”
Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan oleh Anas bin Malik. Selama sepuluh tahun berkhidmah, beliau sama sekali tidak mendapatkan teguran dari Nabi. Ini menunjukkan bahwa khidmah merupakan perbuatan yang baik. Buktinya Nabi tidak pernah melarang Anas bin Malik berkhidmah. Tentu saja, andai berkhidmah ini dinilai buruk, pastinya Nabi akan melarang shahabatnya berkhidmah kepadanya.
Sebelumnya, perlu digarisbawahi, bahwa khidmah ini sejatinya mengandung nilai ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi, yaitu akhlak mulia. Barangkali telinga kita sering mendengar salah satu keterangan yang menyebut bahwa salah satu tujuan terbesar Allah mengutus Nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Nah, dalam khidmah ini, teladan akhlak mulia benar-benar diajarkan, yakni seorang murid mengabdi dan melayani gurunya. Bukankah ini merupakan akhlak mulia?
Baca juga: Ketika si Dungu Justru Menjadi Ahli Surga
Dalam kitab Âdabul-‘Âlim wal-Muta’allim, Hadratusy-Syekh KH. Hasyim Asy’ari menulis satu keterangan yang menjelaskan bahwa tradisi khidmah harus terus dilestarikan oleh seorang murid kepada gurunya. Menurutnya, apabila seorang murid mampu berkhidmah sepenuh hati kepada gurunya, niscaya ia lebih mudah mendapatkan ilmu yang berkah. Sebab, untuk bisa mendapatkan ilmu yang berkah, sudah sewajibnya seorang murid mengabdi dan melayani gurunya sepenuh hati. Beliau menulis:
يَنْبَغِي لِلطَّالِبِ أَنْ يَخْدِمَ شَيْخَهُ خِدْمَةً تَامَّةً، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْآدَابِ الَّتِي تَفْتَحُ أَبْوَابَ الْبَرَكَةِ فِي الْعِلْمِ
“Seorang murid sudah semestinya mengabdi dan berkhidmah kepada gurunya dengan penuh kesungguhan. Sebab, hal itu termasuk adab mulia yang dapat membuka pintu-pintu keberkahan dalam ilmu.”
Abuya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki juga pernah berkata:
ثَبَاتُ الْعِلْمِ بِالْمُذَاكَرَةِ، وَبَرَكَتُهُ بِالْخِدْمَةِ، وَنَفْعُهُ بِرِضَا الشَّيْخِ
“Melekatnya ilmu dapat diperoleh dengan cara banyak belajar, sedangkan keberkahan ilmu dapat diperoleh dengan cara berkhidmah, sementara kebermanfaatan ilmu dapat diperoleh dengan adanya ridha dari guru.”
Apa yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Abuya Sayid Muhammad al-Maliki ini senada dengan slogan yang biasa diajarkan oleh para kiai di surau-surau pesantren. Slogan itu kurang lebih berbunyi sepertimana berikut:
الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ
“Ilmu itu diperoleh dengan belajar, sedangkan keberkahan bisa diperoleh dengan berkhidmah, sementara kebermanfaatan bisa diperoleh dengan ketaatan.”
Perlu ditegaskan, bahwa sejatinya, khidmah yang dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya merupakan bentuk cinta yang diekspresikan dengan cara mengabdi, melayani, memuliakan, dan menghormati sang guru dalam rangka berterima kasih atas semua dedikasi dan ilmu yang diajarkan kepadanya. Dari khidmah itulah ilmu yang ia dapatkan bukan hanya mengandung nilai keberkahan, melainkan juga membawa kebermanfaatan. Demikian ini selaras dengan pernyataan Burhanuddin az-Zarnuji dalam makaharyanya, Ta‘lîmul-Muta‘allim. Beliau menulis:
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ
“Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya seorang pencari ilmu tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya.”
Pernyataan ini sangat tegas, bahwa siapa saja dari kalangan pencari ilmu yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maka caranya adalah dengan hormat, yakni hormat kepada ilmu, hormat kepada orang berilmu, dan hormat kepada guru. Dan kata ‘hormat’ di sini bisa kita jumpai dalam khidmah.
Baca juga: Kehidupan Para Nabi dan Reputasi Agama
Dan melalui khidmah ini, sebenarnya seorang murid secara tidak langsung mengamalkan ilmu akhlak yang ia pelajari, seperti menata sandal gurunya, menyapu halaman rumahnya, memijat dan menemani sang guru, dan seterusnya. Bahkan bukan hanya pengamalan akhlak lahir saja. Lebih dari itu, seorang murid yang berkhidmah kepada gurunya juga sedang mengamalkan akhlak batin, seperti menundukkan egonya, membunuh hawa nafsunya, belajar sabar dan menerima saat apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan keinginan gurunya, dan seterusnya. Tentu saja, ini semua benar-benar melatih dan membersihkan jiwa dan hati seorang murid dari sifat-sifat tercela.
Maka, tradisi khidmah yang hidup di pesantren sejatinya bukanlah budaya yang lahir tanpa dasar, bukan pula praktik merendahkan diri di hadapan sesama manusia, dan bukan pula bentuk feodalisme sepertimana yang dituduhkan oleh mereka yang ingin menjatuhkan ajaran Islam. Justru khidmah ini tumbuh dari warisan akhlak para ulama dan teladan generasi salaf salih dalam memuliakan ilmu dan guru. Sebab, di balik khidmah yang tampak sederhana, tersimpan keberkahan ilmu yang sering kali tidak bisa diukur dengan logika akal manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.
Elmaghroby/Istinbat

