Konsep Wali Allah dan Reputasi dalam Perspektif Sosial

Wali secara bahasa berarti penguasa[1]. Dalam Kamus Populer Ilmiah, wali Allah didefinisikan sebagai pengayom umat; pelindung umat yang diberi karamah oleh Allah karena ketinggian ilmu dan tingkat ketaqwaan[2]. Sedangkan wali Allah dalam perspektif agama disebutkan sebagai seorang yang beriman dan bertaqwa yang menjadi kekasih Allah dan sangat dekat dengan Allah dengan ketaatannya sehingga Allah memberinya karomah (kemuliaan)[3].

            Dalam al-Quran di surah Yunus ayat 62-64 dijelaskan mengenai kriteria seorang wali dan sifat-sifatnya yang berbunyi:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ – ٦٢اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ – ٦٣لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ – ٦٤

Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.

BACA JUGA: Tafsir Polemik Demokrasi: Antara Demokrasi dan Egoisme

Syekh Wahbah az-Zuhaili menafsiri kata اولياء الله dengan kekasih Allah, hamba yang dekat dengan-Nya sebab ketaatannya sehingga Allah ﷻ menganugrahinya sebuah kemuliaan (karamah)[4].

            Selain itu, sifat mendasar seorang wali Allah ﷻ ialah iman yang shahih – beriman kepada Allah ﷻ, malaikat Allah, kitab-kitab Allah, utusan-utusan Allah, hari akhir dan membenarkan semua ajaran yang datang dari Nabi -, dan sifat taqwa, takut kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Maka dari itu, setiap hamba yang bertaqwa, maka dia bagi Allah ﷻ adalah seorang wali[5].

            Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat tersebut, bahwasanya wali Allah ﷻ tidak memiliki rasa takut terhadap dirinya dari hal yang mereka benci saat hidup di dunia, dan tidak memiliki rasa khawatir akan kehidupan akhiratnya seperti rasa khawatir yang terjadi kepada orang-orang kafir dan para pendosa dari siksa Allah di hari kiamat, sebab mereka beriman terhadap qadha’ dan qadar Allah yang telah ditetapkan kepada mereka serta mereka hidup semata mencari ridha Allah [6]ﷻ.

            Hal ini selaras dengan jawaban Syekh Abu Yazid al-Bushtami saat ditanya mengenai seorang yang shalat di atas air dan terbang di udara. Beliau menjelaskan bahwasanya dia yang memiliki kelebihan seperti itu belum bisa dipastikan sebagai wali Allah ﷻ sampai terlihat jelas darinya sifat ketaqwaannya, bagaiamana dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah ﷻ.

            Begitu juga, selaras dengan jawaban beliau saat ditanya tentang seorang yang memiliki bakat semacam sulap seperti dapat mengeluarkan sesuatu dari sebuah kantong kosong. Beliau menjelaskan, janganlah kamu salut kepada orang seperti itu. Tetapi salutlah kamu kepada seorang yang memasukkan uang ke dalam sebuah kantong, lalu uang itu hilang. Dan ia tidak merasa sedikitpun susah atas kehilangan uang tersebut.

            Berdasarkan penjelasan di atas, wali Allah secara sosial dan agama berhak dan layak mendapat nilai positif dan nama baik. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Maryam ayat 96 yang berbunyi:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا ۝٩٦

Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.

Imam Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan ayat di atas bahwa mereka yang beriman kepada Allah ﷻ dan utusan-Nya, membenarkan semua ajaran Allah ﷻ yang dibawa oleh utusan-Nya. Lalu mereka mengamalkan ajaran tersebut dengan didasari sifat taqwa, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka Allah ﷻ yang Maha Pengasih akan menjadikan dan meletakkan ke dalam hati orang mukmin rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka.[7]

Sayyidina Ibnu Abbas menafsiri kata وُدًّا dengan arti mahabbah (cinta) manusia kepada mereka yang beriman dan beramal shalih saat di dunia. Dari riwayat lain, beliau menafsiri kata وُدًّا sebagai rasa cinta seorang Muslim kepada mereka yang beriman dan beramal shalih saat di dunia, rezeqi yang baik, dan lisan yang jujur.[8]

Dari sini, dapat kita ketahui makna sosial dari ayat di atas bahwa tindakan baik akan menciptakan kesan positif apresiasi dan rasa kasih sayang di hati masyarakat. Maka dari itu, reputasi bagi seorang Muslim didapatkan melalui perbuatan baik yang konsisten dan memancarkan kebaikan.

Namun, akhir-akhir ini sempat viral tentang penghinaan, penistaan, dan pelecehan terhadap reputasi dzurriyah nabi, kiai, santri, dan pondok pensantren. Padahal jika kita lihat dari penjelasan di atas, reputasi mereka semua berhak mendapatkan perlindungan bukan malah dicemooh, dihina, dan direndahkan. Bahkan jika salah satu yang mereka itu berketepatan seorang wali Allah ﷻ, maka Allah tidak segan-segan mengadzab mereka dengan memberi lampu hijau untuk memerangi mereka. Naudzubillah min dzalik.

Saiful Anwar/Istinbat

BACA JUGA: Wali dan Karamah [1/3]


[1] Kamus Taufiq

[2] Kamus Populer Ilmiah

[3] Syekh Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Imam Abdullah at-Thabari, Tafsir at-Thabari VIII/358,

[8] Ibid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *