FOMO, Media Sosial dan Krisis Rasa Cukup

Di era media sosial, manusia hidup dalam arus perbandingan tiada henti, setiap hari dipenuhi pencapaian, seperti karir yang melesat, liburan impian, kondisi finansial yang mapan, hingga kehidupan spiritual yang tampak sempurna. Di tengah paparan yang deras itu, muncul kegelisahan dan perasaan takut ketinggalan. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

Sekilas, FOMO tampak sebagai gejala psikologis yang wajar di zaman digital, namun bagi seorang muslim perasaan ini layak direnungkan lebih dalam, sebab bisa jadi FOMO bukan sekadar takut tertinggal, melainkan tanda hati yang terpaut pada dunia.

FOMO sering kali berakar dari kebiasaan membandingkan diri, atau sering merasa cemas dan khawatir akan terlewatnya suatu hal. Ketika melihat orang lain memperoleh sesuatu, kita merasa kehilangan, seolah kebahagiaan itu terbatas dan harus diperebutkan. Padahal, dalam Islam, rezeki setiap orang sudah diatur dan ditetapkan dengan sangat adil. Apa yang menjadi bagian kita, tidak akan tertukar, dan apa yang bukan milik kita, tidak akan bisa kita genggam.

Masalahnya, ketika hati terlalu fokus pada dunia, standar kebahagiaan menjadi sempit. Kita merasa harus memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain dan mencapai apa yang mereka capai dan harus terlihat berhasil di mata manusia. Dari titik itulah FOMO tumbuh subur. Nilai diri perlahan diukur berdasarkan pencapaian duniawi dan validasi sosial, sementara rasa cukup terhadap apa yang telah ada semakin sulit ditemukan.

Baca juga: Instropeksi 1447

Media sosial memperparah keadaan. Apa yang tampil di layar sering kali hanyalah potongan terbaik kehidupan seseorang, tetapi tanpa sadar dijadikan standar kebahagiaan bersama. Ironisnya, banyak orang terus merasa kurang meski sudah begitu banyak menerima nikmat.

Islam tidak melarang manusia mengejar kesuksesan dunia. Namun Islam menegaskan bahwa dunia bukanlah tujuan utama. Ketika kecintaan terhadap dunia menjadi berlebihan, hati dipenuhi iri, gelisah dan rasa tidak puas. Sebaliknya, ketika orientasi hidup diarahkan kepada akhirat, maka akan lahir ketenangan karena seseorang sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini harus dimiliki.

FOMO juga bisa menjadi tanda bahwa rasa syukur masih lemah. Kita terlalu sibuk melihat apa yang belum dimiliki, hingga lupa menghargai nikmat yang telah Allah berikan. Padahal, rasa syukur adalah kunci ketenangan hati. Hal ini selaras dengan peringatan Allah dalam al-Quran Surah Thaha ayat 131:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا

“Dan janganlah kamu tunjukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia”.1

Ayat ini seakan menegur kecenderungan FOMO, yakni terlalu fokus menoleh pada kehidupan orang lain dan lupa menjaga hatinya sendiri. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahaya keterikatan pada dunia. Seperti sebuah ungkapan yang dinukil dalam kitab Ihya’ Ulumiddin:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَة

“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan”.2

Ungkapan ini menggambarkan bagaimana keterikatan berlebihan terhadap dunia dapat melahirkan berbagai penyakit hati, seperti iri, cemas dan tidak pernah merasa cukup. Hal senada juga disampaikan dalam kitab al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah:

إِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى إِنْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْك

“Kesungguhanmu terhadap apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu adalah tanda butanya mata hatimu”.3

FOMO sering membuat manusia terlalu sibuk mengejar hal-hal duniawi yang sebenarnya telah dijamin oleh Allah, namun lalai terhadap kewajiban utamanya sebagai hamba. Lebih jauh lagi, FOMO dapat menggerus keikhlasan. Tidak sedikit orang melakukan sesuatu bukan karena hal itu baik atau bermanfaat, melainkan karena takut tertinggal dari orang lain. Akibatnya, amal yang seharusnya bernilai ibadah justru terkontaminasi dengan dorongan pencitraan dan pengakuan manusia.

Baca juga: Hijrah Akhwat Antara Tren dan Ketulusan

Lalu bagaimana menyikapinya?

Pertama, menyadari bahwa hidup bukan perlombaan dengan manusia yang lain, melainkan perjalanan menuju ridha Allah. Kedua, membatasi paparan yang memicu perbandingan tidak sehat, terutama dari media sosial. Ketiga, memperkuat rasa syukur dengan melihat kembali nikmat yang telah dimiliki. Dan yang paling penting adalah meluruskan niat dalam setiap langkah kehidupan.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah apakah kita tertinggal dari urusan dunia, melainkan apakah kita sedang mendekat atau justru menjauh dari tujuan akhir kehidupan yakni ridha Allah ﷻ.

M. Hasani/Istinbat

  1. QS. Thaha: 131 ↩︎
  2. Ihya’ Ulumuddin, II/156 ↩︎
  3. Hikam Ibnu Athaillah, 39 ↩︎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *