Sidik Jari: Isyarat Kebangkitan yang Baru Dibongkar Sains 14 Abad Kemudian
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini membawa satu identitas yang tak pernah dititipkan kepada siapa pun selainnya, yaitu pola guratan di ujung jarinya. Sekalipun dua orang terlahir kembar identik dari satu sel telur yang sama, pola sidik jari keduanya tetap berbeda. Fakta ini baru benar-benar dibuktikan secara ilmiah oleh dunia Barat pada penghujung abad ke-19, tepatnya ketika Sir Francis Galton, ilmuwan asal Inggris menerbitkan risetnya berjudul Finger Prints pada tahun 1892. Sejak saat itu lahirlah cabang keilmuan yang disebut dermatoglyphics, yakni kajian khusus tentang pola guratan kulit telapak tangan dan jari, yang kemudian menjadi tulang punggung ilmu forensik modern dalam mengidentifikasi manusia.
Yang menjadi bahan renungan bagi kita adalah jauh sebelum Galton dan dunia forensik modern mengenal keunikan sidik jari ini, Allah Ta’ala telah lebih dulu menyinggungnya di dalam al-Quran, tepatnya dalam konteks pembuktian atas kekuasaan-Nya membangkitkan kembali manusia dari kematian. Allah berfirman:
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ. بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sesungguhnya Kami mampu menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 3-4)
Ayat ini turun untuk menjawab keraguan sebagian kaum musyrikin Makkah yang menganggap mustahil Allah membangkitkan kembali jasad manusia yang telah hancur menjadi tanah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah sekalipun tulang-belulang manusia telah hancur lebur, Allah tetap kuasa mengembalikannya persis seperti semula, bahkan hingga ke bagian yang paling kecil sekalipun, yaitu jari-jemarinya. Sedangkan Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menegaskan bahwa lafal bananah bermakna ujung-ujung jari dan penyebutan bagian tubuh sekecil ini justru menunjukkan kesempurnaan qudrah Allah, sebab jika bagian yang paling remeh saja mampu Allah susun kembali dengan tepat, apalagi bagian tubuh yang lebih besar.
Yang menarik untuk ditelaah lebih jauh, mengapa Allah tidak memilih menyebut tulang tengkorak, jantung, atau anggota tubuh lain yang secara kasat mata tampak lebih besar dan lebih vital, melainkan justru ujung jari? Sebagian ulama tafsir kontemporer, di antaranya Syekh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya at-Tahrir wat-Tanwir, menyinggung bahwa pemilihan lafal bananah pada ayat ini mengandung isyarat kehalusan dan ketelitian penciptaan yang luar biasa, sebab pada bagian tubuh yang tampak remeh itulah justru tersimpan pola yang tidak pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainnya sepanjang sejarah. Wallahu a’lam, bila isyarat ini benar, maka ia menjadi salah satu bukti bahwa kalamullah senantiasa relevan menembus zaman, jauh melampaui pengetahuan manusia pada masanya.
Perlu digarisbawahi, penyandingan ayat dengan temuan ilmiah semacam ini termasuk dalam kajian yang oleh para ulama disebut tafsir ilmi. Sebagian ulama seperti Syekh Mahmud Syaltut mengingatkan agar kehati-hatian tetap dijaga dalam metode ini, sebab teori ilmiah bersifat dinamis dan bisa berubah seiring waktu, sedangkan al-Quran bersifat qath’i dan tidak berubah. Karenanya, keselarasan semacam ini semestinya dipahami sebagai bentuk tadabbur dan penguat keimanan, bukan dijadikan satu-satunya pijakan untuk menafsirkan ayat secara mutlak, apalagi sampai memaksakan setiap penemuan sains untuk dicari-carikan padanannya dalam al-Quran.
Terlepas dari kehati-hatian metodologis tersebut, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa 14 abad sebelum forensik modern lahir, sebelum manusia mengenal kaca pembesar sekalipun, al-Quran telah lebih dulu mengisyaratkan bahwa di antara tanda kekuasaan Allah membangkitkan manusia kelak adalah kesempurnaan rekonstruksi ujung jari mereka. Maka pantas kiranya bila kita merenungkan kembali, setiap kali menempelkan ujung jari untuk absen sidik jari, menandatangani dokumen, atau sekadar menyentuh sesuatu, sesungguhnya kita tengah menyaksikan salah satu tanda tangan kekuasaan Allah yang telah dititipkan sejak kita berada dalam rahim, dan yang kelak akan Dia susun kembali dengan sempurna di hari kebangkitan.
Ruslan Abizar/Istinbat

