Kajian Kritis Muhkam dan Mutasyabih

Al-Imam Fakhruddin ar-Razi menempatkan pembahasan mengenai ayat Muhkamât dan ayat Mutasyâbihât sebagai maudhu’ ‘azhîm, topik krusial dan menjadi medan kontroversi para ulama. Kontroversi ini akhirnya juga berimplikasi pada kontradiksi hasil istinbâth, baik dalam persoalan ushūliyah maupun furū’iyah. Perbedaan pandangan terkait makna Muhkamât dan Mutasyabihat, ketika berhubungan dengan ushūluddin, memicu munculnya berbagai aliran teologi. Sementara dalam persoalan furū’iyah, perbedaan itu menjadi penyebab terbentuknya mazhab-mazhab fikih.

Secara garis besar, ada tiga pendapat ulama mengenai ketentuan ayat-ayat Muhkamât dan Mutasyâbihât dalam al-Qur’an. Pertama, kelompok yang menyatakan keseluruhan al-Qur’an termasuk ayat Muhkamât. Pendapat ini bersandar pada Surah Hud ayat 01:

الۤرٰۗ كِتٰبٌ اُحْكِمَتْ اٰيٰتُهٗ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍۙ ۝١

Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya telah disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci (dan diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti. (Q.S. Hud:1)

Kedua, pendapat yang menafikan Muhkamât dari al-Qur’an dan seluruh al-Qur’an Adalah berupa ayat Mutasyâbihât, berdasarkan ayat 23 Surah az-Zumar yang berbunyi;

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ ۝٢٣

Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk. (Q.S. Az-Zumar:23)

Sementara pendapat yang ketiga, pendapat mayoritas ulama, menyatakan Muhkamât dan Mutasyâbihât sama-sama terdapat dalam al-Qur’an. Ayat al-Qur’an yang dijadikan tendensi pendapat ini adalah Surah Ali Imran ayat 07;

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ

Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. (Q.S. Ali Imran:7)

Perspektif Ulama

Dari perbedaan yang ketiga, kemudian muncul lagi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Mereka masih memperdebatkan seputar definisi ayat Muhkamât dan Mutasyâbihât dan mana saja yang termasuk dalam kategori keduanya.

Pertama, Muhkamât adalah ayat yang maknanya dapat dicerna dan dipaham oleh nalar, bukan ta’abbudi, seperti ayat yang menjelaskan hukum halal-haram dan lain sebagainya. Sementara definisi dari ayat Mutasyâbihât, sebagaimana komentar Imam Mawardi adalah kebalikannya, yakni ayat yang maknanya tidak bisa logika nalar.

Kedua, Muhkamât adalah ayat yang dapat ditakwil melalui satu arah. Sedangkan Mutasyâbihât adalah ayat yang bisa ditakwil dari banyak arah. Pendapat inilah yang Sahabat Ibnu Abbas pilih dan mayoritas ulama ushul fikih lainnya.

Ketiga, pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal, mendefinisikan ayat Muhkamât sebagai ayat yang memiliki arti otonom tanpa membutuhkan penjelasan dari ayat lain. Sedangkan ayat Mutasyâbihât adalah ayat yang masih membutuhkan penjelasan dari ayat lain.

Keempat, pendapat dari sebagian ulama kontemporer menyatakan, bahwa yang maksud ayat Muhkamât adalah ayat yang memiliki arti yang konkret. Sedangkan ayat Mutasyâbihât adalah ayat yang maknanya masih abstrak.

Kelima, pendapat dari Imam Fakhruddin ar-Razi yang menyatakan, bahwa ayat Muhkamât adalah ayat yang menunjukkan arti dengan menggunakan dalalah yang sharih atah zahir. Pendapat inilah yang banyak mendapatkan respon positif dari mayoritas ulama muhaqqiqin.

Namun, jika kita perhatikan dari sekian pendapat yang para ulama sampaikan di atas terkait ayat Muhkamât dan ayat Mutasyâbihât, sejatinya tidak ada pertentangan yang signifikan. Hanya saja pendapat kelima yang Imam Fakhruddin ar-Razi ungkapkan itu lebih jelas. Mengingat dalam pembahasan ayat Muhkamât dan ayat Mutasyâbihât orientasinya kepada kejelasan arti yang syara’ kehendaki. Maka dari itu, jika ditinjau dari aspek ini, definisi Imam ar-Razi sampaikan merupakan definisi yang lebih representatif.

Klasifikasi Ayat Ayat Mutasyabihat

Secara garis besar, ada tiga macam pembagian ayat Mutasyâbihât sebagaimana yang telah Imam ar-Raghib menjelaskannya dalam kitabnya Mufradat al-Qur’an. Pertama, ayat Mutasyâbihât yang artinya hanya dapat Allah ﷻ sendiri yang mengetahui. Dengan kata lain akal manusia tidak mampu memahami esensi ayat tersebut, seperti ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat Allah ﷻ, waktu terjadinya kiamat, dan hal-hal gaib.

Kedua, ayat-ayat Mutasyâbihât yang hakikatnya akal manusia menjangkau artinya meskipun harus melalui penelitian dan pengkajian secara intensif, seperti susunan ayat yang masih global, kata-kata sinonim dan ayat-ayat tentang hukum-hukum yang rumit dan sulit untuk difahami.

Ketiga, ayat-ayat yang hanya maknanya oleh orang-orang tertentu ketahui, seperti arti tertinggi dari kandungan ayat al-Qur’an yang hanya bisa orang-orang yang memiliki hati yang jernih dan cahaya hati yang bersih rasakan keajaibannya.

Penyebab Munculnya Ayat Mutasyabihat

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa penyebab timbulnya ayat-ayat Mutasyâbihât dalam al-Qur’an dapat ulama rumuskan menjadi dua bagian;

Pertama, adanya keserupaan secara global. Dengan artian keserupaan karena factor ketidakjelasan arti yang Allah ﷻ kehendaki dalam kalam-Nya.

Kedua, keserupaan secara terperinci. Bagian kedua ini masih terklasifikasi menjadi tiga bagian. Pertama, keserupaan yang mengarah pada lafadznya saja, seperti ayat yang ada dalam permulaan surah. Kedua, keserupaan yang mengarah pada maknanya, seperti ayat yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah ﷻ, hal-hal gaib, dan lain sebagainya. Ketiga, keserupaan yang mengarah pada aspek lafadz dan maknanya, seperti ayat 2 surah al-Baqarah;

وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا

Bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, (Q.S. Al-Baqarah:189)

Sebab orang yang tidak banyak mengetahui bagaimana latar belakang turunnya ayat ini tidak mungkin dapat memahami esensi dari ayat ini.

Hikmah Ayat Mutasyabihat

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka juga perlu kita ketahui tentang hikmah dan misteri yang terselubung di balik ayat Mutasyâbihât. Imam Fakhruddin ar-Razi berkomentar bahwa dalam ayat Mutasyâbihât terdapat kandungan hikmah yang seharusnya diketahui dan direnungkan oleh siapapun.

Pertama, dengan adanya ayat Mutasyâbihât dapat membuktikan bahwa seruan atau dakwah al-Qur’an yang Allah tujukan kepada orang-orang awam saja. Namun, juga Allah tujukan kepada orang khusus pilihan Allah ﷻ. Hikmah ini terkandung dalam ayat yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah ﷻ.

Kedua, ayat Mutasyâbihât menjadi rujukan masing-masing madzhab yang menelurkan model ibadah furu’iyah yang beragam. Sebab, andaikan semua ayat-ayat al-Qur’an hanya berupa ayat Muhkamât tentu al-Qur’an hanya akan menelurkan satu madzhab saja. Hal ini memicu pada kurangnya kemauan untuk merenungi kandungan ayat al-Qur’an.

Ketiga, adanya ayat Mutasyâbihât menjadi bukti akan belas kasih Allah ﷻ terhadap hamba-Nya yang lemah yang tidak mampu mengetahui segala sesuatu, seperti ayat yang menerangkan hari kiamat. Sebab, andaikan Allah ﷻ menjelaskan waktu dan terjadinya hari kiamat tentu hal itu akan menyebabkan manusia malas dan putus asa sehingga pada akhirnya mereka akan terhantui dan merasa takut berkepanjangan.

Keempat, Allah ﷻ menguji hamba-Nya dengan ayat Mutasyâbihât. Apakah mereka beriman terhadap hal-hal yang mana akal dan panca indera mereka sulit menjangkaunya.

Kelima, ayat Mutasyâbihât menjadi bukti yang konkret bahwa manusia yang cenderung mendewa-dewakan akal mereka adalah makhluk yang lemah dan bodoh. Terbukti, akal mereka tidak mampu memahami hakikat dari ayat Mutasyâbihât. Sehebat apapun ilmu pengetahuan mereka, ternyata masih banyak yang belum mereka ketahui.

Maha Suci Allah ﷻ yang mengetahui segala sesuatu, sehingga dengan adanya ayat-ayat Mutasyâbihât ini, manusia senantiasa bisa mengintrospeksi diri dan tidak congkak serta menyombongkan diri. Wallahu a’lam….

Saiful Anwar/Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *