AGAMA BANGSA ARAB PRA ISLAM

Awal Munculnya Kemusyrikan
Mayoritas Bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail عليه السلام dan menganut agama yang dibawanya. Beliau meneruskan dakwah ayahnya, Nabi Ibrahim عليه السلام, yaitu menyembah Allah ﷻ dan mentauhidkan-Nya. Namun, karena sekat waktu yang cukup lama dengan kedatangan nabi setelahnya, yakni Nabi Muhammad ﷺ, Bangsa Arab lupa banyak hal tentang apa yang pernah Nabi Ismail عليه السلام ajarkan kepada mereka.
Sekalipun begitu, tauhid dan beberapa syiar agama Nabi Ismail عليه السلام masih tersisa sedikit, hingga muncul seorang Amr bin Luai, pemimpin Bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal suka berbuat kebajikan seperti bersedekah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan menganggapnya sebagai seorang ulama besar yang disegani.[1]
Kemudian dia mengadakan perjalanan ke Syam. Di sana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan dia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurut dia, Syam adalah tempat para rasul dan kitab Allah ﷻ. Maka dari itu, dia pulang sambil membawa Hubal, berhala yang disembah di Syam dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu, ia mengajak penduduk Makkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah ﷻ. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Makkah karena mereka berfifkiran penduduk Makkah adalah pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.[2]
Berhala yang paling dahulu mereka sembah adalah berhala Manat yang ditempatkan di Musyalla di tepi Laut Merah dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat berhala yang benama Lata yang ditempatkan di Thaif dan berhala Uzza yang ditempatkan di Wadi Nakhlah. Ketiga berhala tersebut merupakan berhala terbesar dari berhala lainnya. Setelah itu, kemusyrikan di Negara Hijaz semakin merebak tersebar dan berhala-berhala yang kecil berserakan di Negara Hijaz.
Begitulah kisah awal muculnya kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Hal ini menjadi peristiwa negatif terburuk dalam sejarah Islam yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Kepercayaan mereka akan masih menganut agama Nabi Ibrahim عليه السلام dengan menyembah berhala ini termasuk keyakinan terhadap hipotesis-hipotesis lemah dan khurafat. Di samping itu, ada agama lain seperti agama Yahudi, Nashrani, Majusi dan Shabi’ah. Agama-agama ini juga mendapat jamuan hangat dari penduduk Bangsa Arab. Banyak mereka juga menganut agama Yahudi, Nashrani, Majusi, dan Shabi’ah.
Agama-Agama Lain
Agama Yahudi
Pertama, agama Yahudi. Ada dua periode yang sempat mewakili keberadaan orang-orang Yahudi jazirah Arab. Pertama, proses hijrah yang mereka lakukan pada periode penaklukan bangsa Babilonia dan Syiria di Palestina. Tekanan yang dialami oleh orang Yahudi, luluh lantaknya negeri mereka, dan hancurnya rumah ibadah mereka oleh Nebukadnazer pada tahun 587 M, serta ditawannya sebagian mereka ke Babilonia, menyebabkan orang Yahudi yang lain meninggalkan Palestina pergi menuju Hijaz dan bermukim di sekitar utara Hijaz.
Kemudian, penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Romawi terhadap Palestina di bawah pimpinan Pettis pada tahun 70 M membuahkan imigrasi besar-besaran dari suku bangsa Yahudi ke Hijaz dan menetap di Yatsrib (Madinah), tepatnya di daerah Khaibar dan Taima’. Di sana mereka mendirikan perkampungan, istana-istana, dan benteng-benteng. Agama Yahudi tersebar di kalangan sebagian besar bangsa Arab melalui kaum imigran Yahudi tersebut.
Di kemudian hari, mereka memiliki peran yang sangat signifikan dalam politik sebelum munculnya Agama Islam. Ketika Islam mucul, suku-suku Yahudi yang sudah ada dan masyhur adalah Yahudi Khaibar, Bani Nadhir, Bani Musthaliq, Bani Quraidhah, dan Bani Qainuqa’. Sejarawan, as-Samhaudi menyebutkan bahwa suku-suku Yahudi yang mampir di Yatsrib dan datang ke sana dari waktu ke waktu berjumlah lebih dari dua puluh suku.[3]
Sementara itu, masuknya agama Yahudi ke Yaman adalah melalui penjual jerami, As’ad bin Abi Karb. Ketika itu, dia pergi berperang ke Yatsrib dan di sanalah dia memeluk Agama Yahudi. Dia membawa Agama Yahudi serta dua orang ulama Yahudi dari suku Bani Quraidhah. Agama Yahudi tumbuh berkembang dengan pesat di Yaman, terlebih ketika anaknya, Yusuf yang bergelar Dzu Nuwas menjadi penguasa di Yaman. Dia menyerang penganut Agama Nashrani Najran dan mengajak mereka untuk menganut agama Yahudi. Namun mereka menolak, sehingga dari penolakan tersebut Yusuf menggali sebuah parit besar dan mencampakkan mereka ke dalamnya lalu ia membakarnya hidup-hidup.
Agama Nashrani
Sedangkan Agama Nashrani masuk ke Jazirah Arab melalui penduduk orang-orang Habasyah dan Romawi yang hijrah dan menetap di Arab. Kependudukan mereka yang pertama kali adalah di Yaman yang terjadi pada tahun 340 M dan berlangsung hingga tahun 378 M. Pada masa itu, gerakan kristenisasi mulai merambah pemukiman Yaman. Tak berapa jauh dari masa ini, seorang yang dikenal sebagai orang zuhud, doa’nya terkabul dan juga dianggap mempunyai kekeramatan serta juga dikenal dengan sebutan Fimiyun datang ke Najran untuk mengajak penduduk Najran meme;uk Agama Nashrani. Mereka melihat tanda-tanda kejujuran pada diri Fimiyun dan kebenaran agamanya. Oleh karena itu, almerambah pemukiman di Yaman. Tak berapa jauh dari masa ini, seorang yang yang dikenal sebagai orang yang zuhud doanya makbul dan juga dianggap mempunyai kekeramatan, yang dikenal dengan sebutan Fimiyun datang ke Najran. Dia mengajak penduduk Najran untuk memeluk agama Masehi. Mereka melihat tanda-tanda kejujuran pada dirinya dan kebenaran agamanya. Oleh karena itu mereka menerima dakwahnya dan bersedia memeluk agama Nasrani.
Tatkala orang-orang Habasyah menduduki Yaman untuk kedua kalinya pada tahun 525 M sebagai balasan atas perlakuan Dzu Nuwas atas apa yang dulu pernah dilakukannya dan tampuk pimpinan dipegang oleh Abrahah, maka dia menyebarkan agama Nasrani dengan gencar dan target sasaran yang luas. Usaha ini mencapai puncaknya tatkala dia membangun sebuah gereja di Yaman, yang diberi nama “Ka’bah Yaman”. Dia menginginkan agar haji yang dilakukan oleh Bangsa Arab dialihkan ke gereja ini. Di samping itu, dia juga berniat menghancurkan Baitullah di Makkah, namun Allah membinasakannya.
Agama Nasrani dianut oleh kaum Arab Ghassan, suku-suku Taghlib, Thayyi’, dll. Hal itu disebabkan mereka bertetangga dengan orang-orang Romawi. Bukan itu saja, sebagian raja-raja Hirah juga telah memeluk agama Nashrani.
Agama Majusi
Adapun agama Majusi (Zoroaster) lebih banyak berkembang di kalangan orang-orang Arab yang bertetangga dengan orang-orang Persia, yaitu orang-orang Arab di Iraq. Bahrain (tepatnya di Ahsa’). Hajar dan kawasan tepi pantai teluk Arab yang bertetangga dengannya. Elit-elit politik Yaman juga ada yang memeluk agama Majusi pada masa pendudukan Bangsa Persia terhadap Yaman.
Agama Shabi’ah
Adapun agama Shabi’ah, menurut penemuan yang dilakukan melalui penggalian dan penelusuran peninggalan-peninggalan mereka di negeri Iraq dan lainnya menunjukkan, bahwa agama tersebut dianut oleh kaum Ibrahim Chaldeans. Agama tersebut juga dianut oleh mayoritas penduduk Syam dan Yaman pada zaman purbakala. Setelah beruntunnya kedatangan beberapa agama baru, seperti agama Yahudi dan Nasrani, agama ini mulai kehilangan identitasnya dan aktivitasnya mulai redup. Tetapi masih ada sisa-sisa para pemeluknya yang membaur dengan para pemeluk Majusi dan hidup berdampingan dengan mereka, seperti masyarakat Arab di Iraq dan di kawasan tepi pantai teluk Arab.
Agama-agama tersebut merupakan agama yang sempat eksis sebelum kedatangan Islam. Namun dalam agama-agama itu, sudah terjadi penyimpangan dan hal-hal yang merusak.
Alil Wafa/LPSI
[1] Ibn adl-Dliya’, Tarikh Mekkah al-Musyarrafah wa al-Masjid al-Haram, Mauqi’ al-Warraq, I/30
[2] Ibn Hisyam, Sirah ibn Hisyam, Maktabah Syamilah, I/202
[3] As-Samhudi, Wafaul-Wafa’, 116

