Kiat Menjadi Putri Mandiri lagi Berbakti

Dalam pandangan Islam, seorang putri bukan hanya amanah yang harus dijaga, tetapi juga permata yang sangat berharga. Rasulullah ﷺ sendiri memuliakan perempuan serta mengangkat derajat mereka dengan kasih sayang dan kemuliaan. Zaman itu perempuan tak ubahnya alat yang mudah dipertukarkan, bahkan mempunyai seorang putri menjadi sebuah aib bagi sebagian kalangan. Sehingga mereka sangat sulit untuk sekedar mandiri secara pribadi. Tapi dalam masyarakat modern sekarang, tantangan bagi para putri semakin rumit — antara tanggung jawab kepada keluarga, serta kemandiriannya secara pribadi. Maka, antara berbakti kepada orang tua dan menjadi pribadi mandiri bukanlah dua hal yang berlawanan, tapi keduanya adalah kunci utama menuju kebahagiaan dan keberkahan.
Berbakti: Jalan Menuju Ridha Allah
Tidak ada bakti yang paling agung setelah beribadah kepada Allah selain berbakti kepada kedua orang tua. Allah ﷻ menegaskan:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtuamu.” [QS. Al-Isrā’: 23]
Ayat ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua sejajar dengan tauhid, dan itu bukan sekadar sopan santun, tetapi ibadah besar yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam tafsirnya Imam Qurtubi menjelaskan bahwa Allah menyandingkan ketaatan kepada kedua orang tua dengan ketaatan kepada-Nya, untuk menunjukkan bahwa bersyukur kepada keduanya adalah kewajiban sebagaimana bersyukur kepada Allah[1].
BACA JUGA: BIDADARI SURGA PUN MURKA
Bahkan, Nabi menyebutkan tentang amal yang paling disukai oleh Allah setelah salat tepat waktu adalah berbakti kepada orang tua. Bakti kepada orang tua bukan hanya dalam bentuk ucapan lembut, tetapi juga dalam kesabaran, perhatian, dan ketaatan selama tidak melanggar perintah Allah.
Tapi ingat!. Seorang putri yang lembut dan santun bukan berarti lemah, melainkan tangguh dalam kesabaran dan halus dalam perasaan, karena kelembutan adalah mahkota perempuan beriman.
Kemandirian: Bekal Menghadapi Kehidupan
Kemandirian dalam Islam bukan berarti menolak bantuan, melainkan berdiri tegak dengan tanggung jawab dan usaha. Islam mendorong setiap mukminah untuk berusaha secara halal dan menjaga kehormatannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang selain dari hasil usahanya sendiri” [HR. Bukhari no. 2072]
Muslimah yang mandiri berarti mampu mengelola dirinya — baik secara finansial, emosional, maupun spiritual — tanpa kehilangan adab dan rasa hormat kepada orang tua. Karena menjadi putri yang berbakti itu tidak berarti harus bergantung sepenuhnya kepada orang tua, begitu pula menjadi mandiri tidak berarti melupakan jasa mereka. Keduanya harus tetap seimbang. Seorang putri yang berbakti akan menghormati nasihat ayah dan ibunya, tetapi juga berusaha menjadi pribadi yang kuat, berilmu, dan tidak mudah menyerah.
Allah ﷻ berfirman:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.’”
Menurut Imam Ibn ‘Āsyūr menafsiri dalam at-Tahrīr wa al-Tanwīr[2], ayat ini berisi perintah Allah agar seorang anak mendoakan orang tuanya, sebagai bentuk balasan atas jasa mereka yang telah membersarkannya dengan penuh kasih sayang sejak kecil, maka hendaklah ia terus mendoakan dan berbakti kepada keduanya.
Jadi, meski seorang putri telah mandiri dan berprestasi, doa dan restu orang tua tetap menjadi sumber utama hidupnya. Sehingga menjadi putri yang berbakti dan mandiri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sayap yang akan membawa seorang muslimah terbang tinggi menuju ridha Allah. Keduanya adalah anugerah yang akan membuat seorang putri menjadi kebanggaan di dunia dan cahaya bagi orang tuanya di akhirat.
Abdulloh AG | IstinbaT
BACA JUGA: TANGGUHLAH SAAT BERSAMA SUAMI ATAU SAAT SENDIRI
[1] Imam Qurtubi, Kitāb Tafsīr al-Qurṭubī, X/238, shamela.ws)https://shamela.ws/book/20855/3955#p1)
[2] Imam Ibn ‘Āsyūr, Tahrīr wa al-Tanwīr, XV/73, shamela.ws (https://shamela.ws/book/9776/5184#p1)

