Kriminalis Pertama dalam Sejarah Manusia
Peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai pembunuhan pertama kali di muka bumi dan permusuhan antara saudara yang bersumber dari wanita. Kecantikan jadi buruan, sedangkan kejelekan jadi alasan untuk menjauhkan.
Bermula dari perjodohan silang. Adam dan Hawa menurunkan empat anak kembar. Qabil kembar dengan Aven. Habil kembar dengan Lubada. Kemudian empat anak disilangkan atas aturan Allah ﷻ. Qabil dinikahkan dengan Lubada dan Habil dinikahkan dengan Aven. Namun, Qabil tidak rela atas perjodohan silang ini, karena dirasa tidak adil dan tidak sebanding. Menurut Qabil, dirinya yang paling tampan lebih pas jika bergandengan dengan Aven yang sangat cantik, ketimbang dengan Lubada yang berparas pas-pasan.
Untuk menengahi, Adam sebagai ayah menyuruh kedua putranya untuk melakukan semacam sayembara penyerahan kurban untuk Allah ﷻ. Kurban siapa yang diterima, maka dia berhak menikahi Aven. Qabil sebagai penggembala kambing, menaruh kurban kambingnya yang kurus, sementara Habil seorang petani mempersembahkan hasil panen padinya yang bagus dan bermutu tinggi. Qabil terlihat keberatan sehingga berkurban dengan kambing yang kurus. Berbanding terbalik dengan Habil yang tampak tulus dan ikhlas. Mereka berdua menaruh kurbannya di pucuk bukit sembari menyaksikan kurban siapa yang akan diterima. Dari atas langit, petir menyambar dan menghanguskan kurban padi milik Habil. Dengan ini, Habil yang dipilih oleh Allah untuk menikah dengan Aven yang cantik jelita.
Baca juga: Kehidupan Para Nabi dan Reputasi Agama
Hasil ini malah bukan menjadi solusi, justru menyulut api dendam dan iri dengki. Qabil tidak terima dan hatinya membara. Ia mendatangi Habil dan mengancam akan membunuhnya. “Jika kamu sampai menikahi Aven, aku akan membunuhmu. Sampai kapan pun aku tidak memberikan saudari cantikku itu dan tidak menikahi saudari jelekmu itu,” ujar Qabil mengecam.
Tetapi, Qabil bingung bagaimana cara membunuh saudaranya, Habil. Di tengah kebingungan tersebut, Iblis datang untuk pertama kalinya menggoda anak Adam di muka bumi, Iblis datang menyamar saudara Qabil yang lain untuk mengajarinya trik pembunuhan. Dalam mode samaran, Iblis mengambil dua batu besar dan menepukkan kedua batu tersebut dengan keras hingga pecah menjadi dua bagian. Qabil yang sedang memperhatikan gerakan iblis tersebut, paham bagaimana cara membunuh Habil. Tanpa menunggu, Qabil langsung beranjak pergi ke sebuah bukit. Di sana, Qabil mendapati Habil sedang tidur terlelap di dalam gua. Bagi Qabil, ini kesempatan emas dan ia pun mengambil batu besar lalu menghantamkannya pada kepala Habil. Habil tewas dan darah di kepalanya mengalir begitu deras. Oleh sejarawan tempat pembantaian tersebut terkenal dengan Magharah Dam, Gua Berdarah, terletak di Gunung Qasiyun, Damaskus.
Bumi tidak terima dirinya dinodai dengan darah kezaliman. Bumi marah dan gempa pun terjadi untuk pertama kalinya selama tujuh hari. Pepohonan berubah menjadi berduri dan buah-buahan yang tumbuh berubah rasa serta air yang mengalir di bumi pun tak lagi manis, dan berubah tawar. Matahari yang melihat tindakan kriminal tersebut merasa malu dan berhenti bersinar sehingga terjadilah gerhana matahari yang menyelimuti bumi untuk pertama kalinya. Sumbernya ialah Iblis yang memperalat wanita sebagai jebakan untuk menjerumuskan1.
Menurut Imam Mujahid, hidup Qabil tidak berlangsung lama setelah itu, karena harus menerima akibat dan azab sebagai konsekuensi atas tindakan kriminalnya. Diazab perlahan di dunia seperti pisau yang mengiris-iris tubuh.
Allah ﷻ mengirim malaikat untuk melipat kaki kanan Qabil ke pantat kirinya dan melipat kaki kiri ke pantat kananya, lalu menggantungkannya pada sumber matahari dan dikelilingi dengan tujuh pagar. Azab tersebut berlaku selama 80 tahun lamanya.
Setelah itu, Qabil dibanting lalu tanah menelan tubuhnya secara perlahan dari bawah. Saat tanah menelan hingga mata kakinya, Qabil mengemis pada Allah, “Ya Tuhan! Kasihani diriku.” Allah menimpali, “Aku hanya mengasihi hamba yang pengasih.”
Ketika tanah terus menelan tubunya atas perintah Allah sampai setengah badan, Qabil membujuk Allah, “Ya Tuhan! Jika aku bermaksiat, maka ayahku orang terbaik sebelumku juga bermaksiat.” Dengan mudah, Allah membalas, “Lantas bagaimana yang Aku perbuat pada ayahmu! Aku usir dia dari surga ke bumi.”
Ketika tanah sudah menelan dadanya, Qabil masih mengemis belas kasihan Allah, sembari berkata, “Ya Tuhan! Kau ciptakan seratus rahmat. Satu rahmat Kau bagikan di antara makhluk dan 99 rahmat yang lain Kau menyimpannya dan Kau genapkan kelak di hari kiamat.” Allah pun membalas, “Bagaimana Aku bisa mengasihimu, sementara kamu tidak mengasihi saudaramu?”.
Setelah itu, tanah menelan tubuh Qabil secara utuh dan di dalam tanah tersebut, Qabil tersiksa dan meronta-ronta hingga hari kiamat.2
Baca juga: Para Penyebar Kisah Israiliyat
Terkait akhirat, Qabil menanggung dosa pembunuhan yang dilakukan oleh keturunan Adam. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْل
“Tidaklah seseorang dibunuh secara zalim kecuali putra Adam yang pertama mendapatkan bagian dari darahnya, karena ia adalah yang pertama melakukan pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari)3.
Sejarah ini ingin menyampaikan pesan bahwa wanita biang dari segala kejahatan, kerusakan, dan kemaksiatan. Cantik dan jelek sama-sama memberi kemudharatan. Qabil berani membunuh saudaranya karena tidak terima atas kejelekan wanita dan hasrat atas kecantikan wanita. Sementara Habil pun menjadi korban karena tidak mau memberikan wanita yang dipilih ayahnya kepada siapapun, dengan dalih ketaatan.
Imam Rohimi/Istinbat

