Siapakah Iblis Itu?

Nama “Iblis” tidaklah asing bagi semua kalangan manusia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Iblis juga merupakan sosok yang sangat dikenal dalam berbagai agama, terutama dalam agama Islam. Ia adalah makhluk yang membangkang, menentang, serta tidak patuh terhadap perintah Allah karena enggan bersujud kepada Nabi Adam. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)

Sebagai konsekuensi dari pembangkangan tersebut, Iblis diusir dari surga.

Namun demikian, terdapat banyak tafsir dan riwayat yang berkembang mengenai asal-usul, peran, dan keturunan Iblis yang turut membentuk persepsi umat tentang makhluk jahat yang dikenal sebagai setan.

Para ulama berbeda pendapat tentang asal-usul Iblis. Shahabat Ibnu Abbas dan mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa Iblis berasal dari golongan malaikat. Sedangkan Imam al-Hasan al-Bashri menyatakan bahwa Iblis berasal dari golongan jin, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā (artinya):

“Ia (Iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya (Allah).”
(QS. Al-Kahf: 50)

Ia adalah makhluk yang diciptakan dari api, berbeda dengan malaikat yang diciptakan dari cahaya dan manusia yang diciptakan dari tanah. Sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Para malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api yang murni, sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah dijelaskan kepada kalian.”
(HR. Muslim)

Menurut Shahabat Ibnu Abbas, dahulu Iblis berasal dari suatu golongan malaikat yang disebut “al-in”. Mereka diciptakan dari api samūm (api yang sangat panas), berbeda dari malaikat lainnya. Nama Iblis pada waktu itu adalah al-ārits. Ia merupakan salah satu penjaga surga.

Adapun malaikat lainnya diciptakan dari cahaya, berbeda dari golongan “al-Ḥin”. Sedangkan jin yang disebutkan dalam al-Quran diciptakan dari nyala api murni, yaitu bagian ujung lidah api ketika menyala.

READ MORE: Eksistensi Jin Qarin Menurut Islam

Hal ini juga dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani dalam karyanya Syarh al-Risālah al-Jāmiʿah bayna Uūluddīn, al-Fiqh wa Tahwwuf yang berjudul Bahjatul Wasā’il bi Syarh al-Masā’il, halaman 15 (cetakan Dar al-Kutub al-Islamiyah), sebagai berikut:

Syaikh al-Laqqani berkata: Malaikat adalah makhluk halus yang diciptakan dari cahaya, dapat menampakkan diri dalam berbagai rupa yang mulia, dan memiliki kekuatan untuk melakukan perbuatan berat. Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan, senantiasa taat dan beribadah, tidak disifati dengan laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah utusan Allah kepada para nabi dan penjaga wahyu-Nya”.

Adapun jin, mereka adalah makhluk halus yang berasal dari unsur udara, dapat berubah bentuk, dan dari mereka tampak berbagai perbuatan menakjubkan. Di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang durhaka.

Sedangkan setan adalah makhluk dari api yang bertugas menjerumuskan manusia ke dalam kerusakan dan kesesatan, membisikkan sebab-sebab maksiat, dan melupakan manusia dari ketaatan.”

Iblis dulunya adalah makhluk yang taat dan hidup bersama para malaikat. Dalam Tafsir al-Baghawi dijelaskan bahwa namanya adalah ‘Azāzīl dalam bahasa Suryani, sedangkan dalam bahasa Arab: al-ārits. Ia menjadi Iblis setelah membangkang kepada Allah karena menolak sujud kepada Nabi Adam. Penolakannya bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena kesombongan dan rasa superioritas, sebab ia merasa lebih mulia dibandingkan Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, sementara dirinya dari api.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa Iblis adalah bapak dari setan, sebagaimana Nabi Adam adalah bapak umat manusia. Setelah diusir dari surga, Iblis dikisahkan bereproduksi dengan cara yang tidak lazim, seperti bertelur atau melakukan autoseksual (hubungan dengan dirinya sendiri). Telur-telur inilah yang diyakini menjadi asal mula keturunan setan, yang menyebar untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Muhammad bin Ibrahim al-Baijuri dalam Tufat al-Murīd alā Jauharatut-Tauīd (hlm. 348, Dār al-Salām):

“Yang dimaksud dengan setan yang terkutuk mencakup Iblis dan para pengikutnya, yaitu anak-anaknya yang berasal dari sulbinya. Ketika ia (Iblis) diturunkan dari surga, ia melakukan liwā (homoseks) dengan dirinya sendiri karena tidak memiliki istri, lalu ia bertelur lima butir, yang menjadi asal keturunannya. Maka dialah makhluk pertama yang melakukan liwā.

Terdapat perbedaan mendasar antara Iblis, jin, dan setan, meskipun dalam penggunaan sehari-hari, istilah-istilah ini kerap digunakan secara bergantian. Iblis adalah satu makhluk yang spesifik, yaitu makhluk yang menolak perintah Allah dan menjadi musuh utama manusia. Dijelaskan dalam al-Quran, Iblis diberi penangguhan usia hingga Hari Kiamat: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan.” (Surah Al-A’raf: 14–15). Oleh karena itu, Iblis tidak akan mati hingga hari kiamat tiba.

Jin adalah bangsa makhluk halus yang diciptakan dari api, Mereka memiliki kehidupan sosial seperti manusia: ada yang muslim, ada yang kafir, mereka menikah, memiliki keturunan, dan pada akhirnya akan mati. bedahalnya setan, setan tidak sama dengan jin bahkan ia seperti iblis dia kafir, dan juga akan musnah bersamanya di akhir zaman

Tapi, di sisi lain, terkadang  istilah “setan” merujuk pada siapa pun—baik dari golongan jin maupun manusia—yang gemar membangkang kepada Allah d an menjerumuskan makhluk lain ke dalam dosa. Dengan kata lain, setan bukan jenis makhluk, tetapi lebih merupakan sifat atau perilaku. Dalam Surah an-Nas, disebutkan adanya “setan dari golongan jin dan manusia”, menandakan bahwa istilah ini bersifat universal.

Kesimpulannya Iblis adalah figur sentral dalam teologi Islam yang melambangkan penolakan terhadap kehendak Ilahi. Ia berasal dari bangsa jin, bukan malaikat, dan memiliki misi untuk menyesatkan manusia. Sementara itu, jin adalah makhluk yang lebih kompleks dan memiliki dimensi kehidupan mirip manusia, termasuk kebebasan memilih antara ketaatan dan kemaksiatan.

Memahami perbedaan antara Iblis, jin, dan setan sangat penting agar tidak terjebak pada generalisasi atau keyakinan yang tidak berdasar.

Badrussholeh/ISTINBAT

BACA JUGA: Cara Iblis Mengganggu Adam di Surga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *