LOGIKA TERBALIK KEBAIKAN DALAM AYAT PERANG

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Pada dasarnya manusia cenderung menyukai hal-hal yang cocok dengan hawa nafsunya dan membenci yang tidak sesuai dengan keinginan nafsu. Hal ini sering kali berlawanan dengan perintah Allah yang selalu mengingatkan manusia untuk selalu waspada dengan ajakan nafsu dan mendorong untuk selalu bertentangan dengannya, termasuk diantaranya adalah perintah perang.
Perang, meskipun terasa ringan bagi sebagian kelompok, namun tetap terasa berat bagi sebagian besar yang lain. Terlebih jika di dalam aturan tersebut masih ada rambu-rambu yang wajib dipatuhi. Sungguh sangat berat menerima ajaran ini kecuali bagi mereka yang memiliki kekuatan lahiriah dan keimanan.
Namun, di balik ajaran tersebut terdapat kebaikan-kebaikan dan manfaat yang kembali kepada individu umat Islam maupun kepada harga diri agama Islam itu sendiri. Tentu tidak dari sudut pandang pengetahuan manusia yang terbatas, tetapi dalam ilmu Allah yang tak terbatas. Meskipun demikian, para ulama tetap berusaha mengumpulkan kebaikan-kebaikan tersebut agar ajaran tadi dapat diterima oleh umat secara umum.
Baca Juga: Tafsir Qurani Atas Konflik dan Ketegangan Antarbangsa
Logika di balik semua ini jelas bahwa tidak semua kebaikan dalam pandangan setiap orang itu merupakan kebaikan, sebaliknya tidak semua keburukan dalam pandangan setiap orang merupakan keburukan. Terkadang banyak hal yang dianggap tidak baik justru merupakan kebaikan yang sempurna.
Sebagai contoh sederhana, yang dijadikan perumpamaan oleh para ulama, adalah obat bagi orang yang sakit. Sedikit sekali obat dari berbagai macam penyakit yang sesuai dengan kesukaan manusia. Tetapi, setiap orang yang merasakan sakit tetap harus meminumnya, jika dia ingin terbebas dari penyakit yang dialami, meskipun obat tersebut terasa pahit dan mengeluarkan bau yang tidak disukai.
Contoh lain disebutkan dalam al-Quran tentang kisah perjalanan Nabi Musa mencari sosok Nabiyullah Khidir. Pada saat beliau bersama muridnya melewati pertemuan antara dua laut yang berbeda dan merasakan kepayahan, bekal yang beliau bawa ternyata hilang tanpa disadari. Tetapi itulah petunjuk yang beliau cari untuk bertemu dengan Nabi Khidir. Allah berfirman:
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَآ إِلَى الصخرة فَإِنِّي نَسِيتُ الحوت وَمَآ أَنْسَانِيهُ إِلَاّ الشيطان أَنْ أَذْكُرَهُ واتخذ سَبِيلَهُ فِي البحر عَجَباً قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فارتدا على آثَارِهِمَا قَصَصاً
“Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (bercerita tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya, kecuali setan. (Ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh. Dia (Musa) berkata, “Itulah yang kita cari.” Lalu keduanya kembali dan menyusuri jejak mereka semula”. (QS. Al-Kahf [18]: 63-64)
Kemudian, setelah beliau menemukan sosok yang beliau cari dan diterima untuk belajar kepadanya, Nabi Musa melihat tiga perbuatan Nabi Khidir yang bertentangan dengan ajaran syariat beliau. Namun, di balik perbuatan yang bertentangan dengan syariat tersebut terdapat rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan Nabi Khidir. Tanpa adanya kejadian-kejadian yang tanpak tidak baik tersebut Nabi Musa tidak akan mendapatkan apa yang beliau cari dan tidak akan mendapatkan pelajaran yang dapat diambil dari hamba Allah yang beliau cari. Terkait hal ini Allah berfirman:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ
“Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahf [18]: 83)
Begitu pula perang, yang tampak kejam dan terasa berat bagi umat Islam, memiliki kebaikan dan manfaat yang sangat besar.
Al-Imam Fakhruddin ar-Razi mengumpulkan beberapa kebaikan tersebut di antaranya:
Pertama, pahala dan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang yang berangkat ke medan perang dengan niat yang benar. Kedua, musuh-musuh Islam tidak akan mudah menyerang umat Islam jika melihat kesungguhan dan ketangguhan pasukan Islam. Ketiga, untuk menarik hati orang kafir ke dalam agama Islam ketika mereka melihat kesungguhan orang Islam dalam membela agama mereka. Karena hal tersebut orang yang ikut berperang mendapatkan pahala dari orang kafir itu. Keempat, Allah menanggung rasa sakit orang yang terbunuh di medan perang disebabkan mencari ridha Allah.1
Baca Juga: Legalitas Penambahan Perawi Hadis dalam Sebuah Hadis
Sebaliknya meninggalkan perang, meskipun tampak menyelamatkan diri dari bahaya terbunuh dan menjaga harta seseorang dari penggunaan yang tidak bermanfaat kepada dirinya, memiliki berbagai keburukan dan bahaya. Di antaranya, musuh Islam akan mudah menyerang negara Islam jika melihat umat Islam dalam keadaan lengah dan lemah. Bahaya dari keadaan demikian jauh lebih besar daripada manfaat duniawi yang tampak.
ABD.BASITH/ISTINBAT
- Ar-Razi Fakhruddin, Mafatihul Ghaib, VI/384, Maktabah Syamilah ↩︎

