TEKA-TEKI NIAT PUASA

Sudah maklum bahwa puasa merupakan salah satu dari rukun Islam, ialah rukun yang keempat. Dalam puasa kita diharuskan untuk berniat agar supaya puasa kita dianggap sah secara syariat, karena setiap amal yang tidak disertai niat maka akan hampa dan sia-sia, sebagaimana hadis yang diriwayat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, yaitu:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

Akan tetapi terdapat kejanggalan mengenai wajibnya niat di dalam puasa, karena puasa sendiri bukanlah termasuk amal, melainkan puasa tergolong tarku, yakni meninggalkan (menahan jiwa untuk melakukan) perkara yang dapat membatalkan puasa, sedangkan niat yang diharuskan dan diwajibkan adalah ketika di dalam sesuatu yang berupa amal atau juga yang berupa tarku ketika bertujuan untuk mendapatkan pahala dari dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti keterangan yang ada di dalam kitab Al-Asybah wan-Nazhair fi Qawa‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syafi‘iyyah juz I, hlm. 12, karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w. 911 H), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

وَأَمَّا التُّرُوكُ: كَتَرْكِ الزِّنَا وَغَيْره، فَلَمْ يَحْتَجْ إلَى نِيَّةٍ لِحُصُولِ الْمَقْصُود مِنْهَا وَهُوَ اجْتِنَابُ الْمَنْهِيِّ بِكَوْنِهِ لَمْ يُوجَد، وَإِنْ يَكُنْ نِيَّة، نَعَمْ يُحْتَاج إلَيْهَا فِي حُصُول الثَّوَاب الْمُتَرَتِّب عَلَى التَّرْك.

“Meninggalkan perkara haram (turūk), seperti zina, tidak membutuhkan niat untuk dianggap sebagai menjauhi larangan karena perbuatannya memang tidak terjadi. Namun, niat diperlukan jika ingin mendapatkan pahala dari meninggalkan larangan tersebut.”

Sehingga dari sini kita tahu bahwa dalam tarku tidak diwajibkan niat kecuali ketika ingin mendapatkan pahala, maka diharuskan adanya niat di dalam tarku tersebut, berbeda dengan puasa, karena puasa bisa dianggap sah dan menggugurkan pada tuntutan kewajiban ketika disertai niat. Jadi, apabila ada orang berpuasa tapi tidak disertai niat, maka puasanya tidak sah dan tidak bisa menggugurkan tuntutan kepadanya. Padahal dalam tarku yang lainnya dengan sekedar meninggalkan meskipun tanpa disertai niat dia sudah dianggap bebas dari tuntutan dan dosa, seperti zina, mencuri, dan tarku lainnya. Lantas apa yang membedakan antara tarku yang berupa puasa dengan tarku yang lain? Di dalam puasa diharuskan adanya niat, bukan hanya sekedar meninggalkan perkara yang dapat membatalkan puasa. Apakah karena masuk pengecualian atau gimana?

Baca juga: Menjadikan Khodam Jin

Mengenai kejanggalan dan kemusykilan di atas, pada hakikatnya para ulama dalam karya-karya kitab klasik sudah menjawab semuanya, seperti kenapa niat itu wajib di dalam puasa, karena untuk membedakan dari kebiasaaqn (adat), sebab ada orang yang tidak makan dan minum tapi tujuannya adalah berobat, sebagaimana keterangan asy-Syekh Abul Faidh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani al-Makki, dalam karyanya Al-Fawā’id al-Janiyyah: Hāsyiyah al-Mawāhib as-Saniyyah Syarh al-Farā’id al-Bahiyyah fī Nazhm al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, juz I, hlm. 145. (Beirut: Dār al-Basyā’ir al-Islāmiyyah).

فَإِنْ قِيلَ: الصَّوْمُ مِنَ التُّرُوكِ لِأَنَّهُ كَفٌّ عَنْ تَعَاطِي الْمُفْطِرَاتِ، مَعَ أَنَّهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى وُجُوبِ النِّيَّةِ فِيهِ. قُلْنَا: الصَّوْمُ إِمْسَاكٌ، وَالإِمْسَاكُ يَقَعُ عَادَةً وَعِبَادَةً، فَاحْتِيجَ لِنِيَّةٍ تُـمَيِّزُ بَيْنَهُمَا.

“Jika dikatakan: Puasa termasuk perbuatan meninggalkan (tark), karena ia adalah menahan diri dari melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, padahal mereka telah bersepakat tentang wajibnya niat di dalamnya. Maka kami jawab: Puasa adalah menahan diri (imsāk), dan menahan diri itu bisa terjadi sebagai kebiasaan maupun sebagai ibadah, sehingga diperlukan niat untuk membedakan antara keduanya.”

Dan juga al-Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w. 911 H), dalam karyanya Al-Asybah wan-Nazhair fi Qawa‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syafi‘iyyah, juz I, hlm. 12, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

الْمَقْصُودُ الْأَهَمّ مِنْهَا: تَمْيِيز الْعِبَادَات مِنْ الْعَادَات، وَتَمْيِيز رُتَب الْعِبَادَات بَعْضهَا مِنْ بَعْض، كَالْوُضُوءِ وَالْغُسْل، يَتَرَدَّد بَيْن التَّنَظُّف وَالتَّبَرُّد، وَالْعِبَادَة، وَالْإِمْسَاك عَنْ الْمُفْطِرَات قَدْ يَكُون لِلْحُمِّيَّةِ وَالتَّدَاوِي، أَوْ لِعَدَمِ الْحَاجَة إلَيْهِ، – إلى أن قال – فَشُرِعَتْ النِّيَّة لِتَمْيِيزِ الْقُرَبِ مِنْ غَيْرهَا، وَكُلٌّ مِنْ الْوُضُوء وَالْغُسْل وَالصَّلَاة وَالصَّوْم وَنَحْوهَا قَدْ يَكُون فَرْضَا وَنَذْرًا وَنَفْلًا، – إلى أن قال – فَشُرِعَتْ لِتَمْيِيزِ رُتَب الْعِبَادَات بَعْضهَا مِنْ بَعْض.

Tujuan terpenting dari niat adalah untuk membedakan ibadah dari kebiasaan, serta membedakan tingkatan-tingkatan ibadah antara satu dengan yang lain. Seperti wudu dan ghusl (mandi), keduanya bisa bermakna sekadar membersihkan diri atau mendinginkan badan, dan bisa pula bermakna ibadah. Demikian pula menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (puasa), bisa jadi dilakukan untuk diet, pengobatan, atau karena tidak membutuhkan makan dan minum. Maka disyariatkanlah niat untuk membedakan amal ibadah dari selainnya. Selain itu, setiap amalan seperti wudu, mandi, shalat, puasa, dan yang semisalnya bisa berstatus wajib, nazar, atau sunnah, sehingga disyariatkan niat untuk membedakan tingkatan-tingkatan ibadah tersebut antara satu dengan yang lain.”

Ada juga yang berpendapat karna tarku dalam puasa adalah mencegah yang ditujukan untuk menahan dan mengekang syahwat, yang merupakan pekerjaannya hati, sehingga tarku di dalam puasa diilhaqkan (disamakan) dengan fi’lu, tapi alasan in masih diperselisihkan, seperti penjelasan asy-Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘āli Bā‘isyn ad-Da‘wānī ar-Ribāṭī al-Ḥaḍramī asy-Syāfi‘ī (w. 1270 H), dalam karyanya Syarḥ al-Muqaddimah al-Ḥaḍramiyyah (Busyra al-Karīm bi Syarḥ Masāʾil at-Taʿlīm), juz I, hlm. 544 (Cet. Dār al-Minhāj).

Baca juga: Pastikan Konten Legal Secara Hukum Negara dan Syariat

(وَلِصِحَّةِ الصَّوْمِ) لِرَمَضَانَ وَغَيْرِهِ (شُرُوطٌ) أَيْ أُمُورٌ لَا بُدَّ مِنْهَا، بَعْضُهَا أَرْكَانٌ، وَهِيَ الْأَرْبَعَةُ الْأُولَى (الْأَوَّلُ) مِنْهَا (النِّيَّةُ)؛ لِخَبَرِ «إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ». وَإِنَّمَا وَجَبَتْ فِيهِ، وَهُوَ تَرْكٌ، وَهُوَ لَا تَجِبُ فِيهِ نِيَّةٌ؛ لِأَنَّهُ كَفٌّ قُصِدَ بِهِ قَمْعُ الشَّهْوَةِ، فَالْتَحَقَ بِالْفِعْلِ.

Niat diwajibkan dalam puasa meskipun puasa berupa meninggalkan perbuatan, karena hakikatnya adalah menahan diri untuk mengekang hawa nafsu, sehingga disamakan dengan perbuatan (aktif).”

Dan asy-Syekh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, dalam kitab Fathul-Bārī bi Syarhaī al-Bukhārī, Juz. , hlm. 15 (Mesir: al-Maktabah as-Salafiyah).

وَخُصَّ مِنْ عُمُومِ الْحَدِيثِ مَا يُقْصَدُ حُصُولُهُ فِي الْجُمْلَةِ فَإِنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ تَخُصُّهُ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكَمَنْ مَاتَ زَوْجُهَا فَلَمْ يَبْلُغْهَا الْخَبَرُ إِلَّا بَعْدَ مُدَّةِ الْعِدَّةِ فَإِنَّ عِدَّتَهَا تَنْقَضِي لِأَنَّ الْمَقْصُودَ حُصُولُ بَرَاءَةِ الرَّحِمِ وَقَدْ وُجِدَتْ، وَمِنْ ثَمَّ لَمْ يَحْتَجِ الْمَتْرُوكُ إِلَى نِيَّةٍ. وَنَازَعَ الْكِرْمَانِيُّ فِي إِطْلَاقِ الشَّيْخِ مُحْيِي الدِّينِ كَوْنَ الْمَتْرُوكِ لَا يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ بِأَنَّ التَّرْكَ فِعْلٌ وَهُوَ كَفُّ النَّفْسِ، وَبِأَنَّ الْتُّرُوكَ إِذَا أُرِيدَ بِهَا تَحْصِيلُ الثَّوَابِ بِامْتِثَالِ أَمْرِ الشَّارِعِ فَلَا بُدَّ فِيهَا مِنْ قَصْدِ التَّرْكِ، وَتُعُقِّبَ بِأَنَّ قَوْلَهُ التَّرْكُ فِعْلٌ مُخْتَلَفٌ فِيهِ، وَمِنْ حَقِّ الْمُسْتَدِلِّ عَلَى الْمَانِعِ أَنْ يَأْتِيَ بِأَمْرٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ. وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُ الثَّانِي فَلَا يُطَابِقُ الْمَوْرِدَ لِأَنَّ الْمَبْحُوثَ فِيهِ هَلْ تَلْزَمُ النِّيَّةُ فِي التُّرُوكِ بِحَيْثُ يَقَعُ الْعِقَابُ بِتَرْكِهَا؟ وَالَّذِي أَوْرَدَهُ هَلْ يَحْصُلُ الثَّوَابُ بِدُونِهَا؟ وَالتَّفَاوُتُ بَيْنَ الْمَقَامَيْنِ ظَاهِرٌ.

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ التَّرْكَ الْمُجَرَّدَ لَا ثَوَابَ فِيهِ، وَإِنَّمَا يَحْصُلُ الثَّوَابُ بِالْكَفِّ الَّذِي هُوَ فِعْلُ النَّفْسِ، فَمَنْ لَمْ تَخْطُرِ الْمَعْصِيَةُ بِبَالِهِ أَصْلًا لَيْسَ كَمَنْ خَطَرَتْ فَكَفَّ نَفْسَهُ عَنْهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَرَجَعَ الْحَالُ إِلَى أَنَّ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَى النِّيَّةِ هُوَ الْعَمَلُ بِجَمِيعِ وُجُوهِهِ، لَا التَّرْكُ الْمُجَرَّدُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Perkara yang ditinggalkan tidak selalu memerlukan niat. Al-Kirmānī menyanggah, mengatakan bahwa meninggalkan sesuatu adalah perbuatan, dan jika ingin mendapat pahala harus disertai niat. Namun, pernyataannya masih diperselisihkan, dan dalil yang dia ajukan tidak relevan dengan pertanyaan utama, yaitu apakah niat wajib agar seseorang dikenai Iqab (hukuman) karena meninggalkan perbuatan yang benar, Meninggalkan perbuatan saja tidak berpahala; pahala diperoleh dari menahan diri, yaitu perbuatan hati dengan niat karena Allah. Orang yang tidak terlintas maksiat tidak sama dengan yang menahannya karena takut kepada Allah. Dengan demikian, yang membutuhkan niat adalah amal dalam segala bentuknya, bukan sekadar hanya meninggalkan. Dan Allah Maha Mengetahui.” Wallahu a‘lamu bish-shawab.

Bedrus Sholeh/Istinbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *