Refleksi Personal Branding Uwais al-Qarani

Kita hidup di era di mana hampir semua orang terbuai dan terlena oleh popularitas dan ketenaran. Kita sering menjumpai orang-orang berlomba melakukan personal branding yang baik kepada diri mereka masing-masing. Ada yang bahkan rela mengeluarkan modal cukup tinggi demi memuaskan keinginannya dikenal oleh banyak orang. Biasanya, mereka mengikuti seminar personal branding yang kemudian diaplikasikan lewat media sosial.

Di era kini, ukuran keberhasilan sering kali dikaitkan dengan seberapa banyak pengikut, seberapa sering wajah muncul di layar, atau seberapa ramai nama dibicarakan oleh orang. Kita hidup di era personal branding, di mana setiap aktivitas mudah berubah menjadi konten dan setiap pencapaian seolah menuntut pengakuan. Tidak sedikit orang yang akhirnya lebih sibuk membangun citra daripada membangun diri. Lebih fokus pada bagaimana terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik.

Sebenarnya, personal branding ini merupakan suatu wasilah. Jika tujuannya baik dan ditempuh dengan cara yang baik, maka juga dihukumi baik. Sebaliknya, jika tujuannya buruk dan ditempuh dengan cara yang buruk, maka demikian ini juga dihukumi buruk. Ada satu petikan pengajian Gus Baha yang menegaskan, bahwa di zaman ini, santri sudah seharusnya tampil. Ia berkata, “Orang yang paham agama atau santri yang alim tidak boleh menyembunyikan keilmuannya. Mereka harus berani tampil dan menyatakan diri sebagai orang yang berilmu agar masyarakat memiliki rujukan yang benar di tengah maraknya informasi yang menyesatkan.”

Baca juga: Kehidupan Para Nabi dan Reputasi Agama

Bahkan, Gus Baha mengibaratkan orang alim seperti dokter spesialis. Jika seorang ahli agama menyembunyikan keilmuannya karena takut dibilang sombong, umat akan kebingungan mencari tempat belajar dan bertanya. Ia juga menambahkan:

“Saat ini, banyak orang dengan bangga mempertontonkan kemaksiatan di ruang publik. Karena itu, orang yang taat dan paham agama juga harus berani “memaklumkan” kebaikan dan ilmu mereka agar nilai-nilai agama tetap terlihat dan diikuti oleh masyarakat.”

Nah, dari petikan ini, mereka yang ingin namanya dikenal sebagai orang yang ahli di satu bidang keilmuan, bisa jadi mengikuti saran dari Gus Baha. Namun, terlepas dari ini semua, ada satu refleksi lain yang bisa kita jadikan prinsip hidup supaya personal branding kita jauh lebih baik dan berkualitas bukan hanya di sisi manusia, melainkan juga di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Refleksi itu datang dari kisah Uwais al-Qarani, seorang pemuda miskin asal Yaman yang namanya sangat masyhur di langit karena ketaatannya, tetapi dianggap gila karena hal-hal “aneh” yang ia lakukan di keseharian hidupnya. Dan pada masa itu, yang mengenalinya hanya orang-orang sekitar yang setiap hari dan malam memang berinteraksi dengannya.

Puncak gilanya ialah ketika Uwais mendengar pesan ibunya. Sang ibu berkata, “Anakku, mungkin ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji.” Tentu saja, mendengar keinginan sang ibu, ia berpikir keras, bagaimana cara menempuh perjalanan dari Yaman menuju Makkah dengan kondisi sang ibu yang terkena penyakit lumpuh. Akhirnya, Uwais menemukan satu cara yang sangat “gila”. Ia sengaja membeli anakan lembu. Bukan untuk disantap dagingnya, tetapi dimanfaatkan berat badannya.

Tidak seperti orang pada lazimmya, Uwais tidak menaruh lembunya di kandang yang berdekatan dengan rumahnya. Justru kandang yang ia buat berada jauh di atas bukit. Lebih gila lagi, saat memberi pakan, yang ia lakukan bukan datang ke atas bukit membawa setumpuk pakan, melainkan datang ke atas bukit, lalu menggendong lembu yang ia miliki. Ia gendong lembu tersebut dari atas bukit menuju rumahnya. Tetampainya di bawah, ia beri pakan lembu miliknya. Barulah setelah merasa kenyang, ia gendong lagi lembu tersebut menuju kandang di puncak bukit. Dan kegiatan “super gila” ini terus ia lakukan meski seiring waktu berjalan, lembu miliknya itu bertambah gemuk dan berat.

Usut punya usut, ternyata demikian ini ia lakukan, lantaran ia sadar, bahwa jarak tempuh dari Yaman menuju Makkah sangatlah jauh, sementara medan yang mesti dilewati sangatlah tandus dan terjal. Di samping ia juga sadar, bahwa sang ibu dalam kondisi lumpuh, dan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membawa sang ibu menunaikan ibadah haji adalah dengan menggendongnya. Sehingga, ia butuh tenaga ekstra yang terlatih, dan tenaga tersebut akan ia dapatkan melalui latihan menggendong lembu naik-turun bukit.

Pada kisah heroik yang tak pernah tersorot oleh masyarakat luas ini, Uwais al-Qarani mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ia tidak sibuk memperkenalkan dirinya kepada manusia, tetapi sibuk memperbaiki hubungannya dengan Allah. Ia tidak mengejar popularitas, tetapi mengejar keridaan. Ia tidak mencari tepuk tangan, tetapi keberkahan. Ia baktikan dirinya sepenuh hati dan raga untuk ibunya, sebab bisa jadi ia sadar bahwa Nabi bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

“Rida Allah berada pada rida orang tua, dan murka Allah berada pada murka orang tua.” (HR. At-Tirmidzi)

Hasilnya apa? Ketika manusia hampir tidak mengenalinya, langit justru mengenalinya dengan sangat baik. Refleksi terbesarnya adalah bahwa nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa terkenal ia di bumi. Bisa jadi seseorang yang tidak memiliki panggung, tidak memiliki ribuan pengikut, dan tidak pernah viral, justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang dielu-elukan manusia belum tentu memiliki nilai yang sama di hadapan-Nya.

Baca juga: Semangat Berkhidmah Meraih Berkah

Namun, personal branding yang kini marak ditemui di dunia media sosial bukanlah sesuatu yang salah. Menunjukkan karya, menyebarkan manfaat, dan memperkenalkan kapasitas diri dapat menjadi sarana dakwah dan kebaikan. Hanya, yang perlu diwaspadai adalah ketika popularitas berubah menjadi tujuan, bukan sekadar alat. Ketika pujian manusia lebih dicari daripada rida Allah. Ketika kita mulai mengukur harga diri dengan jumlah penonton, suka, dan pengikut. Tentu, demikian ini yang perlu dihindari.

Uwais seakan berbisik kepada generasi kita hari ini, bahwa tidak semua yang berharga harus terlihat, dan tidak semua yang terlihat itu berharga. Ada amal-amal yang sengaja Allah sembunyikan dari sorotan manusia agar tetap murni. Ada kemuliaan yang tidak terpampang di dunia, tetapi menjadi cahaya di akhirat sana. Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia yang mengajarkan cara menjadi terkenal, mungkin sesekali kita perlu merefleksikan diri dengan belajar dari Uwais al-Qarani tentang cara menjadi manusia yang benar-benar memperbaiki diri sebelum lanjut pada personal branding dengan memperlihatkan kemampuan dan kebaikan diri.

Elmaghroby/Istinbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *