Fanatisme terhadap Klub Sepak Bola dalam Perspektif Islam

Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang paling digemari di dunia. Jutaan manusia menyaksikan pertandingan, mengikuti perkembangan berita terupdate, membeli atribut klub kesayangan, bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi memberi dukungan kepada tim yang dicintainya.

Pada dasarnya, mencintai sebuah klub sepak bola termasuk perkara mubah (boleh) karena merupakan bagian dari hiburan yang tidak dilarang oleh syariat. Selama hiburan tersebut tidak mengandung kemaksiatan dan tidak melalaikan kewajiban yang telah Allah perintahkan.

Namun, terkadang kecintaan yang semula wajar berubah menjadi taashshub (fanatisme buta). Dimana seseorang mendukung klubnya tanpa mempedulikan benar dan salah, menghina orang lain, memutus persaudaraan sesama muslim, bahkan melakukan kezaliman; maka dalam hal ini syariat memberikan batasan-batasan yang tegas, agar orang-orang tidak terjerumus ke dalam fanatisme buta yang dilarang.

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan dalam mencintai maupun membenci sesuatu. Tidak ada kecintaan yang boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kewajiban-kewajiban agama.

Dalam bahasa Indonesia, fanatisme digambarkan sebagai sikap mencintai, membela, atau memihak kepada sesuatu secara berlebihan sehingga menghilangkan sikap objektivitas.

Dalam istilah syariat, sikap demikian ini dikenal dengan العصبية (al-‘ashabiyyah) atau التعصب (at-ta’ashshub). Fanatisme yang tercela bukan hanya sekadar mencintai kelompok tertentu, akan tetapi membela kelompok tersebut walaupun berada di atas kebatilan.

Ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengenai makna ‘ashabiyyah, beliau bersabda:

لاَ وَلَكِنْ مِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ

“Bukan demikian. Akan tetapi fanatisme adalah ketika seseorang membantu kaumnya dalam kezaliman.” (HR. Ibnu Majah no. 3949)

Hadis ini menjadi kaidah penting dalam memahami fanatisme. Mencintai kelompok, organisasi, daerah, ataupun klub sepak bola bukanlah masalah selama tidak mengarah pada pembelaan terhadap kezaliman ataupun kebatilan.

Bahkan di kesempatan lain Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras mengenai sikap fanatisme yang membawa pada kebatilan:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena fanatisme golongan, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena fanatisme golongan.” (HR. Abu Dawud no. 5121)

Hadis ini menunjukkan bahwa segala bentuk fanatisme yang didasarkan kepada hawa nafsu, bukan kepada kebenaran, merupakan akhlak yang tercela.

Prinsip Persaudaraan Seiman

Di antara prinsip utama Islam adalah bahwa persaudaraan iman berada di atas identitas duniawi, tidak peduli apakah beda ras, suku dan kelompok tertentu. Selagi masih seiman maka wajib saling menghormati.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim sekalipun menggandrungi klub sepak bola yang berbeda dengan kita, mereka tetap merupakan saudara seiman yang memiliki hak untuk dihormati. Oleh karena itu, sangat tidak pantas seorang Muslim memutus ikatan silaturahmi, saling menghina, bahkan bermusuhan hanya karena berbeda warna jersey.

Allah ﷻ juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 8)

Fanatisme yang Bertentangan dengan Akhlak Islam

Fanatisme klub sering melahirkan berbagai bentuk kemungkaran, di antaranya:

  1. Menghina dan merendahkan pendukung klub lain.
  2. Melontarkan cacian, makian, dan kata-kata kotor.
  3. Berbohong demi membela klub kesayangan.
  4. Tawuran antarsuporter.
  5. Merusak fasilitas umum.
  6. Melalaikan shalat demi mendukung klub kesayangan.

Fanatisme Berlebih Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

Allah tidak suka kepada orang-orang yang bersikap berlebihan, Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Walaupun ayat ini berbicara mengenai makan dan minum, para ulama menjelaskan bahwa larangan israf juga berlaku umum untuk setiap sikap yang melampaui batas.

Menjaga persaudaraan sesama muslim merupakan hal yang lebih utama dibandingkan mendukung klub sepak bola. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.” (Muttafaq ‘alaih)

Beliau juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, jangan memata-matai, jangan melakukan najasy (menawar atau memuji barang secara palsu untuk menaikkan harga), jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi (memutuskan hubungan), dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Buhkari)

Sering kali keributan antarsuporter bermula dari emosi yang tidak terkendali. Karena itu Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat singkat namun penuh hikmah:

لاَ تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. al-Bukhari)

Nasihat ini diulang beberapa kali oleh Rasulullah ﷺ sebagai penegasan bahwa kemarahan yang tidak dikendalikan merupakan pintu menuju banyak dosa.

Kesimpulan

Islam tidak melarang seseorang mencintai olahraga ataupun mendukung klub sepak bola. Namun Islam dengan tegas melarang taashshub (fanatisme buta) yang melahirkan kezaliman, kebencian, permusuhan, dan kelalaian terhadap Allah ﷻ.

Seorang Muslim hendaknya menjadikan kecintaannya kepada sebuah klub tetap berada dalam batas yang diajarkan syariat. Kemenangan dan kekalahan hanyalah bagian dari permainan, sedangkan persaudaraan sesama Muslim merupakan amanah yang harus dijaga.

Roihanul Azkiya/Istinbat

Referensi:

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini (Ibnu Majah), Sunan Ibnu Majah, Maktabah Syamilah, hlm. 1302.
  2. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Maktabah Syamilah, hlm. 332.
  3. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, hlm. 128.
  4. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, hlm. 28.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *