Rumor 2030
Sebentar lagi, dalam hitungan tahun, kita menapakkan kaki di tahun 2030. Lumrahnya, setiap pergantian era selalu melahirkan gebrakan atau terobosan baru yang ikonik. Namun, untuk sementara, topik yang paling meresahkan masyarakat, ialah kondisi ekonomi Indonesia yang kian hari kian terpuruk. Terlebih semenjak Amerika Serikat melambungkan nilai mata uang 1 dolar (USD) bertengger di kisaran Rp17.922 hingga Rp17.965. Kayaknya lambat laun kita diancam untuk menjadi rakyat jelata yang tertindas, dan tak berdaya. Ketika garis kemiskinan telah mencapai titik nadir, tanpa pamrih rakyat dipaksa rela menjadi budak, menghamba pada kaum elite demi menyambung hidup. Ini adalah sekelumit fase awal menuju kembalinya era feodal tempo lalu.
Di media sosial, khususnya Instagram, opini terkait konspirasi global menjelang tahun 2030 kian masif menyeruak. Awalnya, banyak mengira Agenda 2030 terdengar sangat manis, pemberantasan kemiskinan, energi bersih, perdamaian global. Tetapi di balik kedok itu, tersimpan rancangan paling ambisius sepanjang sejarah manusia: “One World Government” atau diartikan dengan Pemerintahan Dunia Tunggal. Sebuah konsep teoretis atau cita-cita idealistis di mana seluruh negara di bumi dipersatukan di bawah satu otoritas kedaulatan global. Narasi resminya mengklaim sistem ini bertujuan untuk menjaga perdamaian dan menyelesaikan masalah lintas batas seperti kemiskinan, ketimpangan, dan lingkungan tanpa menghapus identitas tiap negara.
Agenda besar ini sejatinya telah berakar sejak PBB dibentuk pada tahun 1945. Organisasi ini sendiri dibentuk resmi oleh publik guna menjaga perdamaian, keamanan internasional, dan mencegah terjadinya perang besar di masa depan. Namun di balik misi mulia itu, terdapat sebuah rencana besar atau skenario terstruktur yang dirancang secara rahasia dan senyap. Oleh sebab itu, muncul kecurigaan bahwa fungsi PBB seolah bukan sekadar menjaga perdamaian, melainkan bertransformasi menjadi instrumen bagi kelompok elite global tertentu untuk mengontrol, mengatur, dan mengendalikan arah politik, ekonomi, serta tatanan sosial seluruh negara di dunia (New World Order atau Tatanan Dunia Baru).
Pada beberapa bulan yang lalu, publik sempat digegerkan oleh rumor berupa video yang menampilkan tim tenaga medis yang memakai Medical Face Shield bersama beberapa orang dari komunitas Yahudi Ortodoks (Hasidim) tengah menari seolah merayakan kemenangan. Hal itu seakan mengindikasikan bahwa pandemi COVID-19 kemarin yang sempat diperbincangkan oleh Buzzer, bukan dari infeksi virus SARS-CoV-2 alami, melainkan hasil rekayasa laboratorium para elit global. Terkait motif di balik tipu daya tersebut, wallahu a’lam. Dan agenda itu langsung ditangani oleh WHO, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertindak sebagai otoritas pengarah dan koordinator untuk kesehatan masyarakat global. Lembaga yang sejatinya bertugas melindungi populasi dari ancaman penyakit lintas negara; mempromosikan layanan kesehatan universal. Skenario ini secara sempurna menggambarkan taktik Gaslighting atau Abuse to Savior). Pola ini menggambarkan seseorang yang sengaja menciptakan masalah atau menyakiti Anda terlebih dahulu, lalu berpura-pura menjadi pahlawan agar Anda merasa berutang budi dan bergantung sepenuhnya kepada mereka.
Kini, persoalan yang sedang booming di ruang publik adalah masalah keuangan. Di Indonesia sendiri, mulai dari warteg, outlet UMKM, swalayan, minimarket, hypermarket, departemen store, grosir, hingga mal di kota besar diajak untuk beralih dari penggunaan uang fisik menjadi uang digital. Muncullah sistem pembayaran non-tunai baru, QRIS sebagai umpan awal dari CBDC (Central Bank Digital Currency) untuk diatur sepenuhnya oleh bank sentral. Berita pada pertengahan bulan Desember 2025 lalu, bahkan sempat memicu kegeraman Netizen akibat aksi pegawai gerai Roti O Halte Busway Monas, Jakarta Pusat, yang viral sebab menolak uang tunai seorang nenek yang hendak membeli roti di toko itu. Pegawai bersikukuh menolak berdalih bahwa gerai tersebut menerapkan sistem pembayaran khusus non-tunai (cashless), seperti menggunakan QRIS atau uang elektronik. Padahal Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah sebagai pembayaran, sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 ayat 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
Fenomena serupa terjadi di Cina, seperti Beijing, Shandong, hingga Chengdu. Menemukan para pengemis mengalungkan atau memajang cetakan kertas berisi kode QR di trotoar telah menjadi pemandangan biasa akibat adaptasi budaya cashless (tanpa uang tunai) di negara tersebut. Mereka mengganti kotak amal tradisional dengan kode QR (Quick Response) untuk platform dompet digital seperti Alipay dan WeChat Pay, sehingga pejalan kaki dapat bersedekah meski tidak membawa uang receh. Namun di balik kemudahan filantropi itu, lagi-lagi ada udang busuk di balik batu. Menurut laporan perusahaan pemasaran digital lokal, beberapa pengemis bahkan dibayar oleh bisnis lokal untuk menarik pejalan kaki memindai kode QR. Pemindaian ini ditujukan untuk mengumpulkan data dari profil pengguna atau mempromosikan produk startup.
Sayangnya, mayoritas Warganet, cenderung mudah terpengaruh untuk bersikap apatis sejak dini, apalagi dengan pola-pola semacam ini. Barangkali, sikap pasif tersebut diambil, sebagai mekanisme pertahanan diri agar tidak mengalami kerusakan total akibat stres emosional yang konstan. Dampaknya terhadap pola pikir adalah mempermudah munculnya pemikiran, “Mengapa saya harus peduli? Lagipula, isu tersebut akan berganti dan tidak ada hal yang berubah.” Rasa kepedulian sosial pun runtuh, lalu digantikan oleh sikap masa bodoh. Tragedi besar sekalipun akhirnya hanya ditanggapi dengan helaan napas pendek, lalu dilupakan. Padahal sikap skeptis yang sehat adalah langkah awal yang baik untuk belajar berpikir kritis, serta membiasakan diri memilah antara berita yang benar dan manipulasi.
Memang benar ‘Uang Bukan Segalanya’ tapi ingatlah bahwa ‘Segalanya Butuh Uang.’ Bahkan untuk menjalankan ibadah tertinggi pun disyaratkan, “….bagi yang mampu.” Sementara itu, antara mampu atau tidak itu tergantung kita. Tuhan selalu mengikuti prasangka hamba-Nya. Ana ‘inda zhanni ‘abdii bii. Jika pikiran seseorang dangkal dan terbatas pada urusan makan saja, jangan heran apabila Tuhan mengabulkannya. Sebaliknya kita harus memiliki ambisi positif, “Saya harus sukses dan mapan.” Setelah tekad kuat itu tertanam, biasanya setan berbisik, “Buat apa sukses, toh harta tidak akan dibawa mati.” Bisikan itu muncul sebab setan tidak ingin manusia pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Kenyataannya, harta justru bisa dibawa mati melalui pintu kedermawanan. Formula itulah yang akan menjadi penyelamat di akhirat nanti.
Mikyal Milad/Istinbat

