Tinggikan Kemampuan Santri, Bukan Turunkan Level Kitab

Ada satu kecenderungan dalam dunia pendidikan yang belakangan ini patut kita renungi. Hampir segala sesuatu ingin dibuat mudah, cepat, dan praktis. Belajar harus segera paham, kitab harus segera khatam, dan materi harus segera selesai. Kesulitan sering kali dipandang sebagai masalah yang harus segera disingkirkan. Padahal, sejak kapan ilmu yang mendalam lahir dari perjalanan yang serba instan?

Kalau kata Mas d. Nawawy Sadoellah dalam statusnya, “Pohon jati tidak tumbuh dalam semalam. Sungai tidak menjadi dalam hanya karena hujan sehari. Bahkan nasi pun tidak matang hanya karena apinya dibesarkan. Ada proses yang memang membutuhkan waktu. Ada kematangan yang tidak bisa dipaksa datang sebelum waktunya. Begitu pula ilmu.”

Perlu dicatat, ilmu itu bukan sekadar informasi yang dipindahkan dari kitab ke kepala. Ia adalah pemahaman yang tumbuh sedikit demi sedikit, melalui membaca, mendengar, mengulang, bertanya, berdiskusi, menghafal, memahami, dan -yang tidak kalah penting- bersabar.

Allah bahkan mengajarkan Nabi untuk senantiasa meminta tambahan ilmu. Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)

Perhatikan ayat ini, Allah tidak mengajarkan kita untuk berkata, “Ya Allah, mudahkan semuanya agar aku cepat selesai.” Akan tetapi, kita diajarkan untuk meminta tambahan ilmu. Sebab, ilmu adalah perjalanan yang tidak berhenti hanya karena seseorang telah menyelesaikan satu kitab atau satu jenjang pendidikan. Mengenai hal ini, Nabi juga bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhari)

Kata “yufaqqihhu” pada hadis ini menunjukkan adanya proses pemahaman. Bukan sekadar mengetahui, tetapi memahami agama secara mendalam. Nah, mungkin karena itu, menjadi orang berilmu bukan perkara seberapa cepat seseorang menamatkan buku, melainkan seberapa jauh ilmu tersebut benar-benar menetap dalam akalnya, membentuk akhlaknya, dan membimbing amalnya. Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan budaya belajar serba instan.

Namun, bukan berarti semua hal harus dibuat sulit dan bukan berarti kitab yang sulit pasti lebih baik daripada kitab yang mudah. Tidak demikian. Sebab, kitab yang sesuai dengan kemampuan murid justru merupakan bagian dari metode pendidikan yang baik. Seorang pemula tidak semestinya langsung dipaksa menyelami kitab yang jauh melampaui kemampuan berpikirnya. Akan tetapi, kemudahan seharusnya menjadi jembatan menuju ilmu yang lebih tinggi, bukan menjadi alasan untuk selamanya tinggal di tingkat dasar. Maka, ungkapan yang dikutip oleh Mas d. Nawawy dalam statusnya ini sangat menarik untuk kita renungkan:

ارْفَعِ الطَّالِبَ إِلَى مُسْتَوَى الْكِتَابِ، وَلَا تُنَزِّلِ الْكِتَابَ إِلَى مُسْتَوَى الطَّالِبِ

“Naikkan kemampuan santri hingga mencapai level kitab; jangan terus-menerus menurunkan level kitab agar sesuai dengan kemampuan santri.”

Ungkapan ini, meski tidak diketahui dari mana sumbernya, dapat kita pahami sebagai prinsip pendidikan: bukan ilmu yang terus-menerus dipangkas agar sesuai dengan rendahnya kemampuan santri; tetapi santri yang dibimbing, dilatih, dan dinaikkan kemampuannya hingga mampu menjangkau ilmu yang lebih tinggi. Prinsip semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tradisi pendidikan ulama Ahlusunah wal Jamaah.

Badruddin Ibnu Jamaah dalam Tadzkiratus-Sâmi‘ wal-Mutakallim memberikan perhatian besar terhadap kemampuan dan kesiapan seorang santri. Beliau berkata:

وَلَا يُشِيرُ عَلَى الطَّالِبِ بِتَعَلُّمِ مَا لَا يَحْتَمِلُهُ فَهْمُهُ أَوْ سِنُّهُ، وَلَا بِكِتَابٍ يَقْصُرُ ذِهْنُهُ عَنْ فَهْمِهِ، فَإِنْ رَأَى ذِهْنَهُ قَابِلًا وَفَهْمَهُ جَيِّدًا نَقَلَهُ إِلَى كِتَابٍ يَلِيقُ بِذِهْنِهِ

“Seorang guru tidak semestinya mengarahkan murid mempelajari sesuatu yang belum mampu dipahami oleh akal atau usianya, dan tidak pula mengarahkannya kepada kitab yang belum mampu dijangkau pikirannya. Jika guru melihat pikirannya siap dan pemahamannya baik, hendaknya ia memindahkannya kepada kitab yang sesuai dengan kemampuan intelektualnya.”

Menariknya, Ibnu Jamaah tidak mengatakan agar kitab selamanya diturunkan mengikuti kemampuan santri. Justru ketika kemampuan santri sudah meningkat, santri itulah yang dipindahkan menuju kitab yang lebih tinggi. Artinya, pendidikan yang baik memiliki tangga. Santri mungkin memulai dari kitab yang sederhana, tetapi setelah ia menguasainya, ia tidak berhenti di sana. Ia naik ke tingkat berikutnya; dari mudah menuju lebih mendalam, dan dari sekadar memahami teks menuju kemampuan menganalisis dan menguraikan persoalan. Inilah yang membuat tradisi keilmuan pesantren memiliki jenjang.

Seorang santri tidak langsung dibebani seluruh khazanah keilmuan ulama. Ia diajari sedikit demi sedikit. Namun, “sedikit demi sedikit” bukan berarti “sedikit selamanya”. Ada target yang harus dicapai, ada kemampuan yang harus dinaikkan, dan ada kitab yang suatu saat harus mampu dibaca dan dipahami sendiri. Sebab, kesulitan dalam belajar tidak selalu menunjukkan bahwa kitabnya terlalu sulit. Bisa jadi, kita yang belum cukup tinggi untuk menjangkaunya. Lantaran itu, ketika seorang santri belum memahami suatu kitab, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kitab tersebut terlalu berat. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan kitabnya, melainkan kemampuan santrinya. Bukankah demikian cara kerja ilmu?

Kita tidak mungkin memahami pembahasan yang tinggi jika fondasinya belum kokoh. Kita juga tidak bisa berharap mampu membaca kitab besar jika kosakata dasar saja masih terbata-bata. Maka, solusi dari kesulitan ini bukan selalu menurunkan level kitab. Terkadang solusi yang lebih tepat adalah menaikkan level kemampuan murid. Dalam hal ini, ada satu keterangan yang sangat indah dari Yahya bin Abi Katsir:

لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu tidak dapat diraih dengan bersantai-santai.”

Ucapan ini memang bukan sabda Nabi, melainkan perkataan Yahya bin Abi Katsir yang dicantumkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pencapaian derajat ilmu membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan dalam belajar.

Oleh sebab itu, jangan sampai keinginan membuat pendidikan lebih mudah justru berubah menjadi kebiasaan memanjakan murid. Sebab, terlalu sering menyederhanakan ilmu bisa membuat murid terbiasa berada di zona nyaman. Akhirnya, ketika bertemu kitab yang sedikit lebih sulit, ia segera mengeluh dan ketika menemukan istilah yang belum dipahami, ia ingin semuanya diterjemahkan. Padahal, kemampuan berpikir tidak tumbuh dari kemudahan yang terus-menerus. Ia tumbuh ketika seseorang diberi tantangan yang sesuai dengan kapasitasnya, lalu dibimbing untuk melewatinya.

Elmaghroby/Istinbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *