Metode Jitu al-Quran Menghindari Manipulasi Ai

Kita sekarang tengah bergerak menuju era kecerdasan virtual. Hampir semua kegiatan manusia di media sosial, internet, pendidikan, dan lainnya dapat dipermudah dengan AI. Manusia hampir kehilangan peran dalam mengekspresikan ide cemerlang mereka dalam berbagai hal, sebab AI bisa membuat ide yang lebih baik dengan lebih cepat.

Hari ini, setiap kita bisa dengan mudah menciptakan desain gambar tanpa harus mempelajari teknik yang diperlukan; membuat video apa saja tanpa harus memiliki kamera yang bagus, cukup dengan menuliskan prompt pada salah satu asisten AI, lalu dalam beberapa detik muncul gambar atau video yang kita inginkan. Begitu pula ketika kita ingin menulis sebuah artikel ilmiah, berita, teks puisi, atau ide prompt itu sendiri. Narasi-narasi positif ataupun negatif dapat berseliweran di sana-sini tanpa perlu banyak tenaga untuk menciptakannya. Bahkan, banyak dari lembaga pendidikan ternama, perusahan, atau platform media sosial menciptakan asisten AI mereka sendiri agar dapat mempermudah berbagai urusan.

Namun, semua kecanggihan dan kemajuan ini bukan tanpa risiko yang berarti. Sebab AI hanyalah asisten digital, sedangkan aktor utamanya tetaplah manusia. AI bisa memberikan kontribusi positif ataupun negatif tergantung tujuan dari penggunanya, sehingga diperlukan ketelitian dan kebijaksanaan setiap individu dalam ber-AI. Tidak cukup hanya bermodalkan beberapa karakter di mesin pencari semacam google, facebook, youtube, thread, ataupun instagram, kemudian kita mempercayainya, apalagi menyebarluaskannya. Lebih-lebih jika itu menyangkut persoalan agama yang membutuhkan berbagai perangkat yang tidak dimiliki AI, yaitu hati dan petunjuk dari Allah.

Oleh karena itu, sebelum kita menerima kabar atau pengetahuan yang beredar di berbagai media massa ataupun media sosial, kita harus menyeleksinya terlebih dahulu dengan ketat, khawatir isinya mengandung banyak penyimpangan dan kebohongan. Sejak dulu al-Quran telah mengingatkan kita mengenai hal ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى مَا فَعَلْتُمْ نادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 06)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk memverivikasi setiap berita yang disampaikan ‘orang fasik’ agar terhindar dari perpecahan di dalam tubuh umat Islam. Rasulullah menganggap pembohong terhadap seorang yang menyampaikan setiap informasi yang ia terima tanpa ada verifikasi terlebih dahulu. Oleh sebab itu, para ulama manyeleksi dengan ketat setiap berita yang mereka peroleh dari orang lain, utamanya dalam hal yang berkaitan dengan agama dan Islam1.

Hal demikian, jika dimungkinkan melakukan klarifikasi kefasikan sesorang dengan mudah seperti dulu. Lalu, bagaimana dengan zaman kita saat ini, berbagai informasi dapat kita akses dengan mudah melalui gawai, konten-konten agama dapat dibuat oleh siapa saja tanpa harus menempa diri di surau-surau pesantren, juga sulit bagi kita untuk mengenal satu persatu latar belakang setiap konten kreator di media sosial?

Maka dari itu, kita harus mencari sumber yang kredibel dalam bermedsos. Dalam urusan agama kita bisa mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang terkenal kesahihan sumber-sumbernya, atau tokoh agama yang telah teruji kapabilitas keilmuannya di hadapan publik, bukan setiap orang yang bergelar kiai, gus, lora, ustadz, dan gelar keagamaan semacamnya, ataupun gelar akademik yang kapabilitas keilmuannya belum teruji secara ilmiyah kita percaya, karena gelar keagamaan bisa saja dibuat-buat untuk memenuhi kepentingan pribadi seseorang. Gelar akademik juga tidak menjamin kualitas keilmuan siapapun. Ia hanya tanda bahwa orang yang bersangkutan telah menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan.

Dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan kita juga harus mengacu pada dokter yang ahli di bidangnya. Begitu juga dalam hal politik, ekonomi, arsitektur, sains, dan lain sebagainya. Kita harus merujuk pada sumber-sumber primer pada masing-masing sektor. Adapun sumber yang tidak jelas latar belakangnya, apa lagi yang berbau provokasi pemecah belah bangsa, kita kesampingkan terlebih dahulu, karena bahayanya jauh lebih besar dari kemanfaatannya, dan ini merupakan salah satu kemuliaan akhlak yang diajarkan oleh Allah dalam al-Quran2. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Abd. Basith/Istinbat

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, VII/345, Maktabah Syamilah. ↩︎
  2. Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, XXVIII/97, Maktabah Syamilah. ↩︎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *