Makhluk Raksasa; Eksistensi Fantastis & Fiktif Belaka

Eksistensi Auj bin Unuq

Dalam peristiwa banjir bandang Nuh, ada satu manusia raksasa yang selalu disebut-sebut namanya dalam kitab-kitab sejarah. Ia adalah Auj bin Unuq yang katanya sudah hidup sejak masa Nabi Adam dan diasumsikan berlanjut sampai masa Nabi Musa. Menurut rumor yang beredar, Auj juga putra Adam. Tinggi badan Auj ada dua versi. Versi pertama, tingginya mencapai 3333 hasta atau sekitar ±1600 meter. Versi kedua, mengatakan 800 hasta alias 370-384 meter. Karena itu, Auj tidak mati tenggelam dan ketinggian banjir pada saat itu hanya menyentuh mata kaki Auj.

Konon, Auj ini kafir dan pernah ikut andil dalam pembuatan bahtera Nuh. Bentuk partisipasinya dengan memikul tumpukan dahan pohon yang menjadi bahan penggarapan bahtera sampai selesai dan berjalan di tengah gelombang banjir bandang yang seperti genangan air bagi Auj.

Dalam versi riwayat Abdul Mun’im bin Idris, Wahab bin Munabih mengisahkan akhir dari kehidupan Auj. Suatu hari, Auj muncul di hadapan barisan laskar Bani Israil yang sangat panjang sekali. Setelah diukur kepanjangan laskar tersebut, Auj mencabut batu besar dari sebuah gunung lalu melemparnya pada laskar tersebut dan semuanya tewas selain Nabi Musa.

Baca juga: Agama Bangsa Arab Pra Islam

Kemudian Allah mengirim burung Hudhud sedang terbang menuju Auj. Berbarengan dengan itu, batu besar seukuran kepala Auj muncul. Lalu Hudhud dengan paruhnya melubangi batu tersebut lalu jatuh mengalungi leher Auj. Setelah mengetahui berita tersebut, Nabi Musa keluar dan menyerang juga memukulkan tongkatnya pada tumit Auj, lalu mati.

Kritik Ibnu Katsir

Ibnu Katsir, sejarawan muslim asal Damaskus menolak kisah fantastis tersebut serta eksistensi manusia raksasa seukuran Auj. Menurutnya, eksistensi tersebut bertentangan secara dalil dan akal.

Secara rasional, jika Kan’an yang kafir dan paling bejat saja tenggelam dan mati padahal ia adalah putra Nabi Nuh, maka bagaimana bisa Auj bisa selamat ribuan tahun melintasi zaman? Ini irasional dan sangat bertentangan.

Adapun secara dalil, Allah tidak membiarkan satu kafir pun selamat dari Air Bah Nuh sebagaimana doa Nuh yang disebut oleh Allah:

رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأرْضِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ دَيَّارَا

“Ya Tuhan, Jangan biarkan satupun kafir berkeliaran di bumi.” (QS. Nuh: 26)

Dalil lain Rasulullah menjelaskan ukuran tinggi Adam dalam sabdanya:

إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ آدَمَ وَطُوْلُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا ثُمَّ لَمْ يَزَلِ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta kemudian makhluk setelahnya terus berkurang (tingginya) hingga sekarang.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Hadis di atas menyampaikan argumen bahwa jika Adam sebagai ayah manusia diciptakan dengan tinggi demikian dan tinggi keturunannya lebih rendah dari Adam, maka tidak masuk akal jika Auj yang katanya keturunan Adam tinggi berkali-kali lipat lebih dengan Adam, bahkan kakinya menyentuh lautan paling dalam. Ini irasional.

Senada dengan Ibnu Katsir, Imam Ibnul Qayyim turut memvonis kisah Auj tersebut sebagai kisah fiktif yang disebarkan oleh para pendusta atas nama Allah dan Rasulullah. Menurut Ibnul Qayyim, kedustaan ilmiah seperti masalah ini bukanlah suatu yang mengherankan, justru yang sangat mengherankan terjadi pada orang-orang yang terkesima dengan kisah-kisah fantastis secara zahir, tapi fiktif secara batin, sehingga berani menyelundupkan kisah tersebut dalam kitab-kitab ilmiah1.

Di sisi lain, Abdul Mun’im bin Idris sebagai rawi kisah Auj ini dinilai bermasalah dalam ilmu hadis sebagaimana pernyataan Imam as-Suyuthi dalam al-Fatawi:

هٰذَا الْخَبَرُ بَاطِلٌ كَذِبٌ آفَتُهُ عَبْدُ الْمُنْعِمِ بْنِ إدْرِيْسَ

“Kabar ini batil dan dusta yang biangnya ialah Abdul Mun’im bin Idris.”

Imam adz-Dzahabi mengomentarinya sebagai tukang cerita yang tidak bisa dibuat rujukan, Ibnu Hibban juga mengatakan bahwa Abdul Mun’im sering memalsukan hadis atas nama ayahnya dan orang lain, bahkan Ibn Ma’in memvonisnya pendusta yang buruk2.

Baca juga: Air Bah Awal Perubahan Penyebaran Populasi Manusia dan Aneka Ragam Bahasa

Dengan demikian, kisah Auj di atas yang berasal dari Abdul Mun’im yang mendengar dari ayahnya, Idris sangat bermasalah dalam sanad, setidaknya dalam satu hal pokok, bahwa Abdul Mun’im ditinggal wafat ayahnya pada saat masih bayi yang masih menyusu. Berarti, ia belum sama sekali mendengar satu hadis pun dari ayahnya. Maka tidak heran jika kemudian Abdul Mun’im melakukan pencangkokan nama ayahnya dan nama Wahab bin Munabbih untuk mengurai kisah fantastis tersebut.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani memberi pernyataan:

مَاتَ إدْرِيْسُ وَعَبْدُ الْمُنْعِمِ رَضِيْعٌ

“Idris wafat saat Abdul Mun’im masih bayi yang menyusu.”3

Kesimpulan

Eksistensi makhluk raksasa seperti Auj tidak pernah dan bahkan tidak akan pernah ada. Jika eksistensi tersebut melambung di tengah masyarakat, maka harus dilakukan verifikasi tiga langkah. Pertama, menjadikan ukuran tinggi Adam sebagai barometer sebagaimana dalam hadis di atas. Kedua, menggunakan akal dan ilmu sosial. Ketiga, memeriksa kembali kredibilitas dan integritas dari sumber cerita.

Imam Rohimi/Istinbat

  1. Ibnu Qayyimil Jauziyah, al-Manar al-Munif fish-Shahih wadh-Dhaif, hal; 77, Maktabah Syamilah ↩︎
  2. As-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi, II/412 ↩︎
  3. Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisanul-Mizan, IV/74, Maktabah Syamilah ↩︎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *