Ragam Transmisi Hadis
Sebagaimana penjelasan yang sudah lewat di edisi sebelumnya bahwa hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi yang ditransmisikan kepada para shahabat sampai kepada ulama mukharrij hadis (pengumpul hadis) seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, hadis juga memiliki posisi penting dalam agama Islam karena menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan baik yang bersifat ibadah maupun etika dan perilaku sehari-hari.
Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana dan seperti apa hadis itu bertransmisi atau berpindah dari Nabi sampai kepada ulama pengumpul hadis (mukharrij)? Maka penulis akan menampilkan dengan detail metode-metode transmisi hadis mulai dari masa Nabi hingga para mukharrij.
Pertama akan saya mulai dari sumber hadis itu sendiri yaitu Nabi Muhammad ﷺ, bagaimana metode Nabi dalam menyampaikan hadis kepada para shahabat.
Baca juga: Otoritas Hadis sebagai Sumber Hukum Islam
Syekh Muhammad Mustafa Azami dalam karyanya Studies in Hadith Methodology and Literature membagi variabel penyampaian hadis oleh Nabi menjadi tiga kategori.
- METODE LISAN
Di mana Nabi langsung menyampaikan hadis-hadis secara lisan kepada shahabat. Beliau menjelaskan suatu permasalahan dengan baik dan detail hingga tidak menyisakan pertanyaan dan keraguan. Terkadang Nabi mengulangi ucapannya hingga dipahami dan dihafal oleh mereka.
Dalam hal ini Sayidah Aisyah berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْرِدُ الْكَلَامَ كَسَرْدِكُمْ هَذَا كَانَ كَلَامُهُ فَصْلًا يُبَيِّنُهُ يَحْفَظُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Rasulullahﷺ tidak berbicara dengan cepat dan tergesa-gesa sebagaimana kalian berbicara. Ucapan beliau jelas, dipahami oleh pendengarnya, dan dihafal oleh setiap orang yang mendengarkannya.”
Sesudah mengajari shahabat, biasanya beliau mendengarkan lagi apa yang telah mereka pelajari.
- METODE TULISAN
Metode ini berupa hadis-hadis Nabi yang disampaikan melalui tulisan yang didiktekan kepada juru tulisnya. Prof. Dr. Syekh Nuruddin Itr dalam kitabnya Manhajun-Naqdi fī ‘Ulūmil-Ḥadīs menampilkan beberapa tulisan yang masuk pada kategori ini di antaranya adalah lembaran-lembaran yang didiktekan oleh Nabi kepada sebagian shahabat, seperti lembaran milik Abdullah bin Amr bin al-Ash, yang konon tulisan itu berpindah kepada cucu beliau Amr bin Syuaib. Imam Ahmad banyak mengutip hadis dari lembaran ini dalam kitabnya al-Musnad.
Kemudian juga surat-surat Nabi kepada para pemimpin wilayah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan urusan wilayah-wilayah Islam, kondisinya, akidah dan garis-garis besarnya, serta penjelasan mengenai batas nishab, ketentuan syariat untuk zakat, denda pembunuhan/luka (diat), hukuman pidana (hudud), dan hal-hal yang diharamkan. Dan yang lain-lain seperti transaksi dan perjanjian Nabi dengan orang kafir seperti perjanjian damai Hudaibiyah dan Perjanjian Tabuk.
- METODE PERAGAAN PRAKTIS
Sebuah transmisi melalui perbuatan Nabi yang diserap oleh para shahabat, biasanya Nabi memberikan pelajaran praktis disertai perintah yang jelas untuk mengikutinya. Termasuk dalam contoh ini biasanya perintah-perintah di dalam al-Quran yang masih global tanpa penjelasan teknis pelaksanaannya, lalu Nabi memperagakan praktik detailnya seperti perintah shalat, wudu, haji dan sebagainya.
Jika ingin menjawab pertanyaan yang banyak biasanya Nabi meminta si penanya untuk tinggal bersama dan belajar melalui pengamatan praktik beliau.
Ketiga cara penyampaian ini — lisan, tulisan, dan peragaan praktis — saling melengkapi dan menjadi dasar utama bagaimana para sahabat menerima ilmu dan hadis dari Nabi ﷺ. Dari ketiga cara inilah kemudian berkembang berbagai metode yang digunakan oleh para rawi dan ulama setelahnya dalam proses transmisi hadis hingga sampai kepada kita.
Setelah mengupas metode-metode yang digunakan Nabi dalam penyampaian hadis, penulis akan memaparkan metode para rawi dalam menerima dan menyampaikan hadis. Dalam Manhajun-Naqdi fī ‘Ulūmil-Ḥadīs, Dr. Nuruddin Itr menjelaskan beberapa metode yang digunakan oleh para rawi dalam mengambil dan menyampaikan hadis.
- Mendengar Langsung / Pendengaran (السماع)
Mendengar langsung adalah metode yang dipakai oleh muhadditsin di masa awal. Dengan cara ini mereka meriwayatkan hadis dari Nabi. Metode ini mencakup penyampaian lisan, pendiktean baik dari hafalan atau tulisan. Metode ini juga memiliki posisi paling tinggi di antara metode-metode yang lain, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Shalah:
أَرْفَعُ دَرَجَاتِ أَنْوَاعِ الرِّوَايَةِ عَنِ اْلأَكْثَرِيْنَ
“Derajat tertinggi dari jenis-jenis riwayat menurut mayoritas ulama.”
- Pembacaan Murid kepada Guru (العرض)
Metode di mana seorang murid membacakan kepada guru, baik berupa hafalan atau melalui kitab. Metode ini banyak dipakai oleh muhadditsin setelah familiarnya kodifikasi hadis di kalangan mereka. Adapun mengenai posisi metode ini, ulama berbeda pendapat: apakah setingkat dengan sama’, di bawahnya, atau justru lebih tinggi darinya? Namun ulama menyimpulkan bahwa ketika seorang murid itu mampu mengetahui dan menganalisa kesalahan apa yang dia baca, sedangkan gurunya sampai pada puncak dan penjagaannya terhadap hadis, maka metode ini dianggap lebih tinggi dari sama’. Jika tidak demikian, maka sama’ akan tetap lebih tinggi.
- Pemberian Izin (الإجازة)
Dalam terminologi hadis, ijazah berarti bentuk pengizinan seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa harus pendengaran atau pembacaan dari guru tersebut. Mayoritas ulama menganggap metode ini legal, hanya saja mereka akan menjadikan metode ini sebagai tendensi pengambilan hadis setelah hadis-hadis tersebut terkodifikasi dengan rapi dalam bentuk lembaran dan perawinya harus seorang guru yang dianggap ahli dalam apa yang ia riwayatkan.
- Menyerahkan Kitab kepada Murid (مناولة)
Seorang guru memberikan naskah sekaligus otoritas kepada murid untuk meriwayatkan hadis. Misalnya, Imam az-Zuhri memberikan kitabnya kepada beberapa ulama seperti as-Tsauri, al-Auza’i, dan Ubaidillah bin Umar.
Landasan hukum metode ini adalah surat Nabi kepada salah satu pemimpin pasukan perang. Dalam surat tersebut beliau berkata: “Jangan kamu baca surat ini, hingga kamu sampai di tempat ini dan ini.” Ketika sampai di tempat yang dimaksud, pemimpin itu membacakannya kepada orang-orang.
- Korespondensi (كتابة)
Yang dimaksud metode ini adalah seorang guru menulis hadis dan mengirimnya kepada murid. Praktik ini sudah digunakan sejak masa awal, surat-surat Khulafaur Rasyidin banyak mengandung hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para shahabat.
Praktik ini juga banyak digunakan oleh ulama periode awal seperti Ibnu Abbas yang menulis kepada Abu Mulaikah dan Najdah.
- Mengabarkan Hadis (إعلام)
Seorang rawi mengabarkan kepada muridnya bahwa hadis ini ia dengar dari seseorang, tapi tidak memberi hak/izin kepada murid untuk menyampaikannya ke orang lain. Begitulah maksud dari metode ini. Sebagian ulama ushul berpendapat bahwa metode ini tidak boleh digunakan untuk meriwayatkan hadis, karena dimungkinkan terjadinya kecacatan. Sedangkan kalangan muhadditsin, ulama fikih dan sebagian kalangan ahli ushul mengklaim metode ini sah untuk digunakan.
- Wasiat (وصية)
Guru mewasiatkan kepada muridnya sebuah kitab yang boleh ia riwayatkan. Metode ini dianggap lemah oleh para ulama, namun sebagian ulama lain memperbolehkan, karena wasiat dianggap sama dengan metode i’lam.
Namun Imam Ibnu Shalah menolak keras pendapat tersebut sampai mengatakan: “Ini jauh (dari kebenaran), dan boleh jadi ini adalah keterpelesatan (kekeliruan) seorang ulama, atau penafsiran dari seseorang yang bermaksud meriwayatkan (hadis) melalui jalur wijadah.”
Baca juga: Otoritas Hadis sebagai Sumber Hukum Islam dan Fungsinya terhadap al-Quran part-2
- Menemukan Tulisan/Kitab (وجادة)
Yakni menemukan kitab seseorang dengan tulisan dan sanadnya. Menurut ulama boleh menyampaikan hadis melalui metode ini atas dasar hikayah atau bercerita dan tidak menimbulkan manipulasi yang mengesankan adanya pertemuan langsung. Contoh menggunakan diksi seperti:
وَجَدْتُ بخَطِّ فُلَانٍ
“Saya menemukan dalam tulisan tangan si Fulan: Telah menceritakan kepada kami si Fulan…”
Tidak boleh menggunakan redaksi yang mengindikasikan terjadinya pertemuan antara rawi seperti حَدَّثَنَا atau أَخْبَرَنَا.
Itulah metode-metode yang dipakai oleh para rawi dalam transmisi hadis mulai dari Nabi kepada shahabat hingga kepada para Imam hadis yang banyak kita kenal sekarang seperti Imam Bukhari dengan karyanya Shahih Bukhari dan Imam Muslim dengan kitabnya Shahih Muslim. Dari metode inilah hadis-hadis Nabi sampai kepada kita sekarang.
Fathurrosi/Istinbat

