Tafsir al-Quran terhadap Pencemaran Lingkungan
ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Salah satu problematika terbesar di kancah global saat ini adalah tercemarnya lingkungan alam. Problem ini akibat dari ‘human error’ yang telah mengisi berbagai lini kehidupan, mulai dari sosial, pendidikan, politik, instansi pemerintahan, dan lain sebagainya. Utamanya di bumi tercinta kita ini. Efek negatif dari masalah ini telah meluas di berbagai tempat, seperti laut, darat, hutan, udara, dan lingkungan hidup lainnya, sehingga banyak menimbulkan penyakit, korban jiwa, dan kerusakan ekosistem alam yang tidak bisa lagi dikatakan wajar.
Dilansir dari Our World In Data bahwa dunia saat ini menghasilkan 350 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. Dari sekian banyak sampah tersebut, hampir seperempatnya (sekitar 82 juta ton) tidak dikelola dengan baik, alias dibuang sembarangan. Lalu, sekitar 19 juta ton dari 82 juta tersebut bocor ke lingkungan, yaitu 13 juta ton di darat dan sisanya terdampar ke sungai atau garis pantai. Kemudian, masih dari Our World In Data, sekitar 1,7 juta ton sampah-sampah tersebut diangkut ke laut, yang berarti sekitar 0,5% sampah berakhir di lautan1.
Kemudian, dari problem inilah timbul berbagai problem di lautan, pada tahun 2015 sebuah video viral menampilkan seekor penyu yang menyedot sampah plastik2, lalu pada tahun 2019 ditemukan paus sperma yang mati dengan seratus kilogram sampah tergumpal di dalam perutnya3, dan masih banyak biota laut yang terganggu dengan limbah kita. Bahkan, sebuah kajian terkini menemukan bahwa dengan tren saat ini, 99% burung yang mencari makanan di laut akan mencerna sampah plastik pada tahun 20504.
Adapun di darat kondisinya barangkali lebih parah, karena manusia lebih banyak menghabiskan waktu di darat daripada di laut, sedangkan korbannya bukan lagi makhluk hidup yang lain, tetapi juga mengancam manusia itu sendiri. Efek dari global warming, illegal logging, limbah pabrik, dan berbagai bahan kimia lainnya telah merenggut jutaan nyawa di seluruh dunia. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akibat minimnya serapan air sudah menjadi bencana tahunan di beberapa kawasan.
Pada masa awal kemunculan Islam, kerusakan lingkungan belum separah saat ini. Saat itu belum ada alat berat untuk mengeruk kekayaan alam demi keserakahan sebagian golongan, juga belum ada mesin pemotong yang bisa membabat habis jutaan hektar hutan dalam waktu singkat, sehingga penafsiran ulama terbatas pada penyimpangan di dalam masalah syariat, seperi minuman keras, perjudian, perzinahan, kezaliman penguasa, dan lain sebagainya yang terjadi pada masa itu. Tetapi saat ini, kerusakan itu bukan hanya mengarah pada syariat, alam pun secara nyata menjadi korban kebrutalan manusia.
Tentu, yang dibanggakan Allah dari manusia adalah kemuliaan ilmu yang merupakan potensi utama mereka, bukan berbuat kerusakan. Sebagaimana firman Allah (artinya), “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!” (QS. Al-Baqarah [02]: 31). Nah, kekuatan dari ilmu inilah yang menempatkan manusia di antara dua kemungkinan berbeda, yaitu menebar kebaikan di muka bumi dengan ilmu mereka, atau menyalahgunakan potensi dari ilmu tadi sehingga terjadilah berbagai kerusakan di muka bumi.
Kerusakan ini sebenarnya merupakan salah satu larangan Allah ﷻ sebagaimana dalam ayat (artinya), “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [07]: 56), dan ayat (artinya), “Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Perlu diingat, bahwa sejatinya alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Allah ﷻ, manusia diberikan kebebasan untuk mengelolanya dengan baik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Maka, sepantasnya manusia menjaganya dengan baik sesuai dengan perintah penciptanya. Umat Islam yang mendapatkan perintah tersebut selayaknya menjadi yang terdepan dalam mengampanyekan kelestarian alam, bukan malah menjadi pelaku utama, karena termasuk dari syariat Islam adalah mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ. Tentu, tidak bisa dikatakan mencintai, seseorang yang merusak buah karya dari kekasihnya.
Anehnya, kenyataan pahit ini serasa benar adanya. Banyak negara muslim yang tampak kumuh, jauh dari ajaran yang sebenarnya. Bahkan, di antara sepuluh negara paling kotor kebanyakan berasal dari negara mayoritas muslim. Pun sebaliknya, banyak negara nonmuslim yang patut dijadikan contoh dalam praktik menjaga kelestarian lingkungan, dan tidak ada satu pun negara muslim yang menempati sepuluh besar negara terbersih di dunia berdasarkan skor Environmental Performance Index (EPI)5.
Namun, tidak ada masalah yang tidak ada solusi. Gerakan peduli lingkungan tidak cukup dikampanyekan di berbagai tempat. Perlu adanya sinergi, baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Jika tidak, maka problem ini akan terus berlanjut sampai membinasakan pelakunya sendiri sebagaimana janji Allah ﷻ dalam ayat 41 surah ar-Rum di muka.
Abd. Basith/Istinbat
- https://ourworldindata.org/how-much-plastic-waste-ends-up-in-the-ocean ↩︎
- https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51812316 ↩︎
- https://nationalgeographic.grid.id/read/131941894/paus-sperma-ditemukan-mati-dengan-100-kilogram-sampah-di-perutnya ↩︎
- https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51812316 ↩︎
- https://pegadaian.co.id/artikel/inspirasi/negara-terbersih-di-duni ↩︎

