Cara Ulama Hadis Menguji Ilmu Seseorang

Bayangkan seseorang duduk di tengah kerumunan besar. Di hadapannya, satu per satu orang berdiri dan membacakan hadis, tapi semua hadis itu salah. Sanad ditukar, matan dibolak-balik, isi diacak. Dan orang itu hanya menjawab satu kalimat untuk setiap hadis yang dibacakan, “Saya tidak tahu”. Itulah yang terjadi di Baghdad, ketika para ulama setempat memutuskan untuk menguji Imam Bukhari.

Mendengar Imam Bukhari akan mengadakan majelis hadis di Baghdad, sejumlah ulama kota itu berkumpul dan menyusun rencana. Mereka memilih seratus hadis, lalu menukar setiap sanad dengan matan hadis lain, sehingga seratus hadis itu seluruhnya terbolak-balik. Seratus hadis itu dibagikan kepada sepuluh orang, masing-masing membawa sepuluh hadis.

Ketika majelis dimulai, utusan pertama maju dan membacakan hadis yang beliau bawa. Sang Imam menjawab, “Saya tidak tahu”. Begitu pula hadis kedua, ketiga, hingga kesepuluh. Semuanya dijawab sama. Utusan kedua maju. Sama. Utusan ketiga. Sama. Sampai utusan kesepuluh selesai membacakan seluruh hadis yang beliau bawa, jawaban Imam Bukhari tak berubah, “Saya tidak tahu”.

Sebagian hadirin mulai berbisik. Ada yang menyimpulkan bahwa Imam Bukhari ternyata lemah hafalannya. Tapi mereka yang lebih jeli membaca ekspresi wajah beliau, beliau tau betul bahwa sedang diuji. Setelah semua selesai, Imam Bukhari menoleh kepada utusan pertama. Satu persatu, beliau menyebutkan hadis yang dibacakan tadi, lalu mengembalikannya ke bentuk yang benar. Sanad dikembalikan ke matan yang semestinya. Seratus hadis. Selesai semua.

Kisah ini tercatat dalam Sirah al-Imam al-Bukhari karya al-Mubarakfuri dan disinggung Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Yang perlu dipahami adalah apa yang Imam Bukhari lakukan di Baghdad merupakan hasil dari metode belajar yang beliau bangun bertahun-tahun.

Pertama, Imam Bukhari tidak pernah mencatat hadis ketika ada di majelis. Kakaknya, Imam Ahmad bin Ismail al-Bukhari menuturkan bahwa ketika Imam Bukhari muda menghadiri halaqah di Balkh, beliau tidak pernah mencatat. Beliau dicela habis-habisan. Sampai suatu hari, beliau meminta semua catatan dikumpulkan, lalu membacakan ulang seluruh isi halaqah dengan hafalannya. Semuanya terkejut. Beliau hafal 15.000 hadis di luar kepala, lengkap dengan keterangan yang bahkan tidak sempat dicatat oleh yang lain.

Kedua, para ulama hadis salaf memiliki tradisi ikhtibar. Ujian mendadak dengan hadis yang sengaja dibolak-balik atau diubah. Tujuannya untuk memastikan bahwa hafalan seseorang benar-benar tahqiq, bukan sekadar dicatat di kertas. Ini adalah standar ilmiah yang mereka terapkan secara serius dan konsisten.

Ketiga, mereka menempuh rihlah, perjalanan panjang menemui guru secara langsung. Imam Muslim misalnya, belajar lebih dari 220 ulama yang tersebar di Hijaz, Irak, Mesir, dan Syam. Kenapa kok Imam Muslim belajar dengan cara seperti itu? Karena beliau percaya bahwa ilmu yang hanya dibaca memiliki batas, sedangkan ilmu yang diterima langsung dari lisan ke lisan punya hikmah tersendiri.

Metode para ulama hadis bukan keistimewaan yang lahir dari takdir. Metode ini lahir dari pilihan untuk serius, pilihan untuk tidak puas dengan hafalan yang cukup, dan pilihan untuk terus-menerus menguji diri sendiri.

Imam Bukhari bisa menjawab semua yang salah karena beliau tahu, satu prinsip yang tampaknya sederhana, itu belum cukup kalau belum diuji.

M. Ruslan Abizar/Istinbat

Referensi

  1. Al-Mubarakfuri, Abdussalam, Sirah al-Imam al-Bukhari, Makkah, Dar Alamil Fawaid.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari.
  3. Ibnu Khalikan, Wafiyat al-A’yan, Beirut, Dar Shadir, 1994.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *