Eksistensi Manusia dan Ancaman AI
Dewasa ini, berita tentang kecerdasan buatan (AI) selalu menempati ruang setiap platform media, bahkan semakin berkembang. Mulanya AI diciptakan sebagai alat untuk memangkas waktu serta membantu efisiensi kinerja manusia. Namun seiring berjalannya waktu, tujuan itu mulai bergeser. Alih-alih terbantu, manusia perlahan kehilangan ketajaman berpikir logis. Pikiran manusia kian tumpul karena segala sesuatu kini serba instan.
Namun, penulis tidak ingin menggiring tulisan ini pada pembahasan tersebut, melainkan pada perkembangan robotika bertenaga AI. Hari ini, Amerika Serikat dan Cina tengah bersaing dalam perlombaan pembuatan robot asisten rumah tangga dan industri. Terobosan terbaru ini dirancang untuk mempercepat pekerjaan di pelbagai sektor, mulai dari domestik, medis, industri berat, hingga penelitian.
Sebut saja Robot NEO, robot buatan perusahaan Norwegia-Amerika yang didesain untuk membantu pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian hingga dapat digunakan untuk menjadi teman berdiskusi. Ada pula robot humanoid canggih buatan Inggris, yang diklaim lebih berperasaan, karena dilengkapi kemampuan ekspresi wajah untuk memahami dan berinteraksi secara natural dengan manusia.
Akan tetapi, AI dengan berbagai ragamnya juga berpotensi menggeser manusia dari lapangan pekerjaan. Jika dulu manusia belajar melalui guru, kini murid bisa belajar otodidak via internet. Jika pabrik atau perusahaan besar lumrahnya digerakkan secara manual oleh tenaga kerja manusia, kini AI mampu melakukannya dalam waktu singkat secara cermat, sigap, dan tepat. Bahkan urusan pelaminan, ada segelintir manusia yang kini enggan menikah dengan sesama manusia.
Di belahan bumi lain, ditemukan fenomena anomali di mana manusia menjalin hubungan intim dengan AI. Sebut saja Samantha, robot boneka seks yang dapat melayani majikannya. Tidak seperti robot biasa, Samantha bersifat interaktif, serta dapat merespons suara dan sentuhan.
Di masa depan, pernikahan dengan robot sangat mungkin menjadi tren. Dalam satu kasus, seorang pria Jepang bernama Kondo percaya bahwa ia telah menikah dengan sebuah hologram 3-D. Ia mengatakan dengan bangga bahwa kepuasan yang dia peroleh dari hologram tersebut tidak bisa diberikan oleh wanita nyata.
Bagaimana jadinya jika robot buatan tangan manusia ini justru melumat peradaban manusia itu sendiri dari muka bumi? Sejatinya, kekhawatiran ini sudah bersemayam di benak para ilmuwan, sejak AI masih berada pada fase ANI (Artificial Narrow Intelligence alias Weak AI). Sebab pada masa itu saja AI sudah mampu mengalahkan juara dunia catur, Garry Kasparov, bahkan beberapa dekade kemudian, kemampuan teknologi itu tidak cuma lihai dalam satu bidang, tetapi juga bisa belajar, berargumen sekaligus beradaptasi layaknya manusia.
Sebagaimana dilansir dari DW.com, pada September 2025 kemarin, Albania meresmikan “Diella” sebagai Menteri AI pertama di dunia. Pemerintah setempat meyakini bahwa dengan sistem otomatisasi AI dapat menutup celah suap, favoritisme, dan campur tangan politik manusia dalam kontrak-kontrak pemerintah. Secara tidak langsung, ini seolah menjadi bentuk angkat tangan moral terbesar bahwa; manusia menyerah pada ketidakmampuannya untuk mengelola keadilan, lalu menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada algoritma.
Tidak berhenti di sini, para spesialis AI memiliki prediksi yang jauh lebih mengerikan. Perkiraan mereka, mungkin pada tahun 2040-2050 ke atas, AI bukan lagi sekadar asisten virtual digital, melainkan mewujud dalam bentuk fisik, robotika, yang memiliki kemampuan “Recursive Self Improvement”. Ini adalah sebuah kondisi di mana sistem AI mampu membuat dirinya jauh lebih pintar dan canggih secara mandiri tanpa campur tangan manusia.
Pada akhirnya, terjadilah ledakan kecerdasan atau yang kerap diistilahkan dengan ‘Intelligence Explosion’. Dalam hitungan hari atau bahkan tahun, kecerdasan robot tersebut bisa melompat jauh melampaui seluruh akumulasi kecerdasan manusia dalam sejarah. Pada titik itulah, manusia berisiko turun kasta menjadi sekadar parasit di planetnya sendiri. Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa skenario ini masih bersifat teoritis, dan belum terbukti di lapangan.
Sebab dalam kitab suci Al-Quran, Tuhan secara eksplisit menitipkan amanah keberlanjutan bumi ini kepada manusia (QS. Al-Baqarah: 30) bukan kepada semesta, hewan, apalagi kepada robot tak berakal. Jadi, secanggih apapun kualitas AI, peranan manusia tetap menjadi tokoh utama, pengokoh, dan pemaku kestabilan bumi. Sementara itu, AI sendiri hanyalah pembantu yang tidak akan pernah menggantikan posisi manusia sebagai penduduk asli di bumi ini, hingga hari kebangkitan nanti.
Sebab sejatinya, ketika sosok manusia tiada, dunia itu sendiri akan turut mati. Karena manusialah ruh yang menopangnya. Dialah tiang spiritual bagi langit, sementara alam duniawi hanyalah anggota dari tubuh kosmis, yang menjadikan manusia tersebut sebagai jiwanya. Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa pikiran kita tidak tumpul oleh kepraktisan instan, agar ruh kosmis ini tidak mati sebelum waktunya. Wassalam
Mikyal Milad/Istinbat

