Iram Dzatil Imad: Kota Surgawi dalam Halusinasi

Dalam catatan tertulis, beberapa sejarawan dan mufasir menyebutkan sebuah kota kuno yang telah hilang ditelan zaman. Konon, kota tersebut hasil dari mega proyek yang luar biasa, menyulapnya menjadi kota surgawi di muka bumi, untuk menandingi surga langit yang asli.

Mega proyek yang bermula dari ambisi Syaddad bin Ad ini, dalam proses kontruksinya, melibatkan seratus ribu kontraktor. Setiap seribu kontraktor berada di bawah pengawasan satu mandor. Tugas mereka adalah mencari tanah lapang yang luas, yang berkualitas, dan paling harum di Yaman.Tidak berhenti di situ, Syaddad mengirim surat instruksi kepada tiga gubernurnya; Ghanim bin Alwan, adh-Dhahhak bin Alwan, dan al-Walid bin ar-Rayyan. Ketiga gubernur ini menerima instruksi untuk mengerahkan semua para penggali tambang dan para penyelam, untuk mengumpulkan jutaan mutiara, emas, perak, permata, intan, batu zabarjad, batu yakut, kristal, ambergris, dan zakfaran.

Lokasi sudah ditentukan dan semua bahan dikumpulkan, proyek besar pun dimulai. Batu bata untuk menyusun kerangka kota, terbuat dari jutaan emas, dengan ukuran 12×12 farsakh. Selanjutnya, tembok kota dilapisi dengan batu zabarjad, mutiara, yakut, dan batu akik. Lalu ratusan kamar bertingkat dibuat meramaikan bagian dalam kota, dan dikuatkan dengan tiang yang terbuat dari zabarjad dan batu akik.

Pada bagian bawah kota, tanah digali sedalam 40 farsakh untuk mencipatakan kanal besar dan aliran sungai yang jernih sepanjang jalan, terotoar dan gang. Pinggiran kanal yang memanjang, dibuat dari emas merah, dan dihiasi dengan pohon emas merah yang membuahkan yakut dan permata. Lalu dari atas sungai, tampak kerikil mutiara merah, mutiara hijau, dan kuning.

Di atas permukaan kota, berdiri 300.000 gedung megah di tanah yang luas dan pintunya menghadap ke anak sungai, dengan dua gagang pintu dari emas dan dihiasi dengan aneka ragam mutiara. Lalu membuat senapan dari kasturi dan zabarjad untuk disebar dan disemprotak di jalan-jalan yang dilalui banyak orang.

Di bagian luar kota, berdiri bukit buatan serta 300.000 pemandangan yang tinggi menjulang langit dan bertembok, untuk camp pasukan. Mega proyek ini diselesaikan dalam jangka waktu 500 tahun. Para kontraktor melaporkan selesainya pembangunan kota megah ini kepada Syaddad.

Kemudian Syaddad berangkat ke sana dan memasrahkan urusan di Hadrmauat kepada putranya, Martsad. Bersama 300.000 para punggawa kerajaan, Syaddad memacu kudanya dan saat mendekat kota barunya, gemuruh langit berteriak kencang, memusnahkan Syaddad dan seluruh pasukannya. Sementara, para kontraktor, kuli bangunan, dan petugas yang berada di dalam kota megah tersebut, juga ikut mati tanpa tersisa, disusul dengan tenggelamnya kota megah ini ke dalam bumi.

Konon, pernah suatu hari di era Khalifah Muawiyah, ada orang badui bernama Abdullah bin Qilabah, kehilangan untanya. Ia mencari untanya dan tidak sengaja ia terjebak masuk ke dalam kota Iram Dzatil Imad. Akhirnya, ia mengambil beberapa bahan dari kota tersebut untuk dijadikan sampel bukti ketika melaporkannya kepada Muawiyah. Muawiyah kaget dan segera memanggil Kaab bin al-Ahbar untuk memverifikasi kabar tentang kota tersebut. Kaab memberi pernyataan dan berkata, “Inilah kota yang disebut oleh Allah dalam kitab-Nya.”

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعادٍ إِرَمَ ذاتِ الْعِمادِ

“Apakah kamu (Muhammad) tidak melihat bagaimana Tuhanmu berbuat pada (kaum) Ad, yaitu Iram yang mempunyai bangunan tinggi.” (QS. Al-Fajr: 6-7).

Sebenarnya eksistensi kota Iram Dzatil Imad di atas tidak benar-benar ada, hanya fiktif belaka, yang bersumber dari Israiliyyat seperti disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Khaldun. Ibnu Katsir berkomentar bahwa kisah orang badui tersebut tidak shahih secara sanad. Andaikata sanad kisah ini shahih disandarkan kepada orang badui, tentu juga tidak dipastikan benar, karena memungkinkan orang badui berdusta atau terkena gangguan jiwa dan pemikiran yang absurd sehingga meyakini bahwa pengalamannya dan penemuan bahan di kota ilusi tersebut dinyatakan realita yang bisa diterima, padahal faktanya, kota itu fiktif belaka.

Ibnu Katsir dalam Qashashul-Anbiya’ secara tegas menyatakan bahwa eksistensi Iram Dzatil Imad berada di Alexender dan Damaskus, juga tidak lah benar, karena tidak sesuai konteks dalam ayat di atas yang menerangkan kehancuran kabilah Ad, bukan menjelaskan kota.

Pernyataan di atas diperkuat oleh statmen dari sebagian orientalis. Menurutnya, para sejarawan yang mengatakan bahwa kota Alexandria adalah kota surga Iram Dzatil Imad, berangkat dari jejak historis Raja Alexender dalam dongeng-dongeng Arab Utara seperti dalam kitab at-Tijan, riwayat Wahab bin Munabbih.

Menurut pemahaman penulis, kota Iram Dzatil Imad dalam konstruksinya sangat detail menyebutkan ukuran panjang-lebar, berikut dengan jumlah petugas dan kuli bangunan, yang jika ditelaah, bertentangan dengan dalil hadis. Salah satunya, kota ini berukuran 12×12 farsakh atau sekitar 60×60 m. Ukuran ini meniscayakan ukuran tinggi dari orang-orang pada masa itu, setidaknya sekitar 40-an meter, terlebih bukti keterbatasan alat-alat pembangunan yang manual. Jika ukuran manusia demikian, tentu menyalahi ukuran kodrat Nabi Adam yang tingginya 30 meter (60 hasta).

Alhasil, data yang dipastikan benar menyebutkan bahwa kaum Ad adalah keturunan dari Iram bin Sam yang berdomisili di Ahqaf, Yaman. Kaum Ad merupakan kaum yang kuat dan tak tertandingi. Sementara, terkait kota megah yang dibangun Syaddad tersebut, dianggap kota surgawi dalam halusinasi, oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Khaldun.

Rohimi/Istinbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *