Air Bah Awal Perubahan:Penyebaran Populasi Manusia dan Aneka Ragam Bahasa

Ibarat membersihkan lantai dari kotoran dengan bilasan air, Allah membersihkan bumi dari kesyirikan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh umat Nabi Nuh melalui air bah dengan skala yang sangat ekstrem. Tidak ada satupun orang kafir selamat, bahkan Kan’an terbawa arus banjir yang meninggi saat hendak melarikan diri ke gunung. Sementara, puluhan orang mukmin selamat di atas bahtera bersama Nabi Nuh dan berlayar beberapa hari sampai air bah menyusut dan pada akhirnya, bahtera Nuh mendarat di bukit Judi yang letaknya sekarang teridentifikasi di provinsi Sirnak, Turki Tenggara.

Di bukit Judi, Nabi Nuh hidup selama 500 tahun usai kejadian air bah bersama 70 pengikutnya. Semuanya meninggal dunia tanpa memberi keturunan kecuali tiga putra Nuh: Sam, Ham, dan Yafets. Keturunan mereka kemudian sebagiannya tetap tinggal di Judi, dan sebagian yang lain berpencar di belahan bumi.1

Kemudian Nabi Nuh bersama ketiga putranya turun dari bukit Judi dan membangun desa Tsamanin di bawahnya. Disebut Tsamanin, karena dari desa inilah, 80 bahasa, termasuk Bahasa Arab yang berbeda terucapkan dan tersebar setelah populasi keturunan dari ketiga putra Nuh berkembang.2

Menurut versi lain, Nabi Nuh keluar dari bahteranya bersama 80 pengikut lalu turun dari bukit Judi dan membangun desa Tsamanin yang artinya delapan puluh, untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman. Tetapi kemudian semua pengikutnya meninggal dunia sebab wabah yang melanda, selain Nabi Nuh dan ketiga putranya.3

Baca juga: Agama Bangsa Arab Pra Islam

Pada saat membludak, mereka pindah dan membangun kota Babilonia. Di sana lah, mereka beranak-pinak sampai mencapai seratus ribu manusia yang memeluk Islam sebagaimana penuturan Ibnu Abbas.4

Keturunan dari Ham dan Yefets ini keluar dari Babilonia dan berpencar ke berbagai daerah di belahan bumi, sebab jika ribuan manusia terus berada di Babilonia dengan 80 bahasa yang berbeda, akan menyebabkan kosa kata bahasa terkontaminasi dan campur aduk satu sama lain. Karena itulah, mereka semua berpencar selain keturunan Sam yang tetap tinggal di Babilonia meski akhirnya menyebar ke Jazirah Arab.5

Ham mempunyai empat putra: Kusy, Quth, Kan’an, dan Mishrayim. Dari empat putra inilah, menurunkan ras berkulit hitam seperti bangsa Qibthi dan bangsa Habsayah, dan berpencar ke arah maghrib.

Sementara, Yafets memiliki tujuh putra: Jamir, Marij, Mauij, Mawadi, Buwan, Tsaubal, dan Tairus. Keturunan mereka ditakdirkan menjadi penguasa dan raja seperti Bangsa Saqalib, serta menjadi perusak alam seperti Yakjuj-Makjuj. Semuanya tersebar ke berbagai wilayah di dunia timur.

Sam dikaruniai empat putra: Arfakhsad, Aswad, Lawud, dan Iram. Dari Lawud, lahir Faris, Tamim, Umem, Imlek, dan Jasim. Semuanya selain Faris disebut dengan Bangsa Arab Aribah karena menggunakan bahasa Arab dan disebut dengan Arab Badiyah karena sebagai bangsa Arab kuno.

Karena itulah kemudian Tasim tinggal di Daerah Jau yang sekarang menjadi Yamamah. Keturunannya di sana semakin bertambah dan memanjang ke Bahrain. Sementara Jasim dan keturunannya menempati daerah Raml. Mereka ini lah yang terkenal dengan Nasnas alias manusia setengah jadi, diazab oleh Allah sampai musnah.

Konon, Nasnas seolah manusia utuh yang membelah diri jadi dua bagian sehingga bentuk fisiknya ialah berkaki satu, bertangan satu, bermata satu. Sering melompat seperti kera dan bertempat di sekitar Jazirah Arab, termasuk di Yaman. Tentang makhluk ini, Ibnu Abbas memberi penjelasan, “Mereka makhluk menyerupai manusia tetapi bukan manusia.” Lebih tegas lagi, Syekh Muhibuddin ath-Thabari menggolongkan makhluk ini pada spesies kera atau monyet. 6

Menurut Abu Ubaid al-Bakri, bahwa rumor tentang keberadaan Nasnas dianggap aneh oleh masyarakat Hadramaut dan Sihar, Yaman. Ini membuktikan bahwa makhluk ini tidak ada dan hanya fantasi gila dari masyarakat awam.7

Baca juga: Membangun Persatuan Umat ala Rasulullah

Iram bin Sam mempunyai tiga putra: Ghatsir, Ush, dan Hawil. Ush menurunkan Ghatsir, Ad dan Abil. Kemudian Ghatsir ini mempunyai dua putra: Tsamud dan Jadis. Ad tinggal di Raml, Hadramaut, Yaman. Abil menempati Yatsrib (sebelum disebut dengan Madinah). Tsamud dan keturunannya menetap di Hajr-Wadil Qura, sedangkan Jadis berbaur dengan Tasim di Yamamah-Bahrain.

Arfakhsad menurunkan Salikh lalu Abir. Abir ini memiliki dua putra; Faligh dan Qahthan. Qahthan ini adalah leluhur Yaman sehingga dijuluki dengan Abul Yaman dan leluhur dari Arab Aribah.

Alhasil, bahwa Yafets adalah leluhur dari raja-raja non-Arab, Ham leluhur dari ras kulit hitam dan Sam adalah luluhur dari bangsa Arab dan Persia. Sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah bersabda:

سَامُ أَبُو الْعَرَبِ وَحَامُ أبُو الحَبْشِ ويَافِثُ أبُو الرُّوْمِ

“Sam adalah leluhur Arab, Ham adalah leluhur Habasyah, dan Yafets adalah bangsa Rum” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad)

Imam Rohimi/Istinbat

  1. Ibnu Hisyam, at-Tijan fi Muluki Himyar, hal: 32, Maktabah Syamilah ↩︎
  2. Ismail bin Umar bin Katsir, Qishashul-Anbiya’, hal: 67, cet: Darul Kutub Ilmiyyah ↩︎
  3. Yaqut al-Hamawi, Mu’jamul-Buldan, II/84, Maktabah Syamilah ↩︎
  4. Ath-Thabari, Tarikhul-Muluk wal Umam, I/203, Maktabah Syamilah ↩︎
  5. Abu Hanifah ad-Dinuwari, al-Akhbar ath-Thiwal, hal: 2, Maktabah Syamilah ↩︎
  6. Ad-Damiri, Hayatul-Hawayan al-Kubro, II/480, Maktabah Syamilah ↩︎
  7. Al-Bakri, al-Masalik wal-Mamalik, vol: II/154, Maktabah Syamilah ↩︎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *